OtoSirkel

Ketergantungan pada Budaya Konsumtif Bukanlah Sebuah Kebetulan

SAREKAT, OTOSIRKEL – Ketergantungan masyarakat terhadap budaya konsumtif bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Fenomena ini merupakan hasil dari keputusan politik dan sistem ekonomi yang perlahan membentuk cara hidup masyarakat modern. Di tengah perkembangan pasar bebas, pasar tradisional mulai tersingkir, sementara pasar modern tumbuh pesat dengan berbagai strategi pemasaran seperti promo, diskon, cashback, hingga layanan paylater yang terus muncul setiap kali masyarakat membuka telepon genggamnya.

Politik pasar bebas tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual gaya hidup, gengsi, hingga ilusi kebahagiaan. Masyarakat secara perlahan dibentuk untuk percaya bahwa menikmati kopi harus di tempat yang estetik, healing identik dengan belanja, dan kebahagiaan harus terlihat mahal di media sosial.

Kondisi tersebut membuat konsumsi terasa sebagai sesuatu yang wajar dan normal. Segala hal kini dibuat serba cepat; makanan cepat saji, belanja instan, hingga hiburan yang dapat diakses dalam hitungan detik. Akibatnya, konsumsi bukan lagi sekadar soal kebutuhan, melainkan berubah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Belanja kini kerap dianggap sebagai hiburan, checkout menjadi pelarian dari rasa jenuh, dan barang-barang dibeli bukan karena benar-benar diperlukan, melainkan karena takut tertinggal tren. Di sisi lain, pasar kecil, pedagang tradisional, dan hubungan sosial antar manusia perlahan tergeser oleh sistem yang menilai hampir segala sesuatu berdasarkan transaksi.

Meski sulit sepenuhnya keluar dari sistem tersebut, masyarakat setidaknya masih dapat mulai membangun kesadaran. Salah satunya dengan membiasakan belanja seperlunya, mendukung pasar dan usaha kecil di sekitar, belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berhenti menjadikan konsumsi sebagai tolok ukur kebahagiaan.

Pada akhirnya, kesadaran untuk hidup lebih sederhana bukan hanya soal menghemat pengeluaran, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai sosial agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh budaya konsumtif.

Sharing is scaring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *