OtoSirkel

Fenomena Kerja Terus, Tapi Tetap Miskin

SAREKAT, OTOSIRKEL – Pengangguran memang menurun, tetapi banyak pekerja masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Memiliki pekerjaan ternyata belum tentu menjamin kesejahteraan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai sekitar 154 juta orang. Dari jumlah tersebut, 146,54 juta orang bekerja, sementara 7,46 juta lainnya masih menganggur. Secara angka, kondisi ini terlihat membaik karena tingkat pengangguran mengalami penurunan.

Namun, angka pekerja yang meningkat tidak otomatis berarti kualitas hidup masyarakat ikut membaik. Persoalan utamanya bukan hanya soal tersedianya pekerjaan, tetapi juga kualitas pekerjaan dan kelayakan upah.

Masih banyak pekerja yang berada dalam kondisi kerja yang tidak stabil. Dari total 146,54 juta orang yang bekerja, tercatat:

  • 98,65 juta orang bekerja penuh waktu
  • 11,6 juta orang tergolong setengah pengangguran
  • 36,29 juta orang bekerja paruh waktu

Setengah pengangguran adalah mereka yang bekerja kurang dari 53 jam per minggu dan masih mencari tambahan pekerjaan karena penghasilannya belum mencukupi kebutuhan hidup. Secara statistik mereka memang dikategorikan sebagai pekerja, tetapi secara ekonomi kondisi mereka masih rapuh dan pendapatannya tidak stabil. Data ini merujuk pada Sakernas BPS Agustus 2025.

Kerja Keras Belum Tentu Sejahtera

Masalah ini tidak semata-mata disebabkan oleh individu yang malas atau kurang berusaha. Banyak pekerja telah bekerja keras, bahkan harus lembur atau mengambil pekerjaan tambahan. Namun, upah yang diterima sering kali tidak sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Akibatnya, kerja keras tidak lagi selalu menjamin seseorang bisa meningkatkan taraf hidupnya.

Dampak pada Mental Pekerja

Tekanan ekonomi yang terus-menerus juga berdampak pada kondisi mental para pekerja. Banyak orang mulai merasa gagal secara pribadi ketika kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, meskipun mereka sudah bekerja keras.

Fenomena seperti burnout, stres, dan kelelahan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Padahal, kondisi tersebut bukan semata persoalan individu, melainkan berkaitan dengan struktur sistem kerja dan ekonomi yang tidak sepenuhnya berpihak pada pekerja.

Dilema Finansial Pekerja Muda

Irvan (30), misalnya, mengaku gajinya hampir seluruhnya habis untuk kebutuhan dasar seperti biaya kos, cicilan, dan kebutuhan rutin. Sisa uang yang ada sering habis untuk belanja impulsif atau tuntutan tampil rapi di tempat kerja. Meski begitu, ia tetap menyisihkan sedikit dana untuk self-reward agar merasa lebih terkontrol secara finansial.

“Gaji habis, ya tunggu gajian lagi.”

Kisah serupa dialami Agung (32), yang kini menjadi tulang punggung keluarga setelah orang tuanya terkena PHK. Dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan, ia harus memikirkan berbagai cara untuk menambah pemasukan.

“Sekarang apa-apa mikir harus cari tambahan ke mana lagi. Sedih juga rasanya.”

Bekerja Belum Tentu Bebas dari Kemiskinan

Jumlah lapangan kerja memang bertambah, tetapi kualitas pekerjaan masih menjadi tantangan besar. Memiliki pekerjaan tidak otomatis membuat seseorang keluar dari jerat kemiskinan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah seseorang memiliki pekerjaan, tetapi apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan kehidupan yang layak.

Sharing is scaring
Admin Sarekat

Admin Sarekat

Sarekat adalah media ruang menulis tanpa sekat. Mengangkat isu sosial, politik, dan budaya dari sudut pandang mereka yang kerap terpinggirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *