Gus Baha’: Ngaji Harus Bersanad, Jangan Berani Tafsir Al-Qur’an Menurut Pendapat Pribadi
SAREKAT, CATATAN – Ulama Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha’, menegaskan pentingnya sanad keilmuan dalam mempelajari dan mengajarkan agama Islam. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak sembarangan menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasarkan pendapat pribadi tanpa rujukan kitab dan jalur keilmuan yang jelas.
Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha’ mencontohkan para ulama besar seperti KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang meskipun memiliki keluasan ilmu, tetap mengajar dengan berpegang pada kitab-kitab karya ulama terdahulu.
“Se’alim-alimnya Mbah Moen, kalau mengajar masih memakai kitab. Itu adab keilmuan,” ujar Gus Baha’.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya sendiri selalu mengajar dengan merujuk kitab kuning yang memiliki sanad jelas. Menurutnya, kitab yang digunakan tidak hanya menunjukkan isi keilmuan, tetapi juga memperlihatkan siapa penulisnya dan dari siapa ilmu itu diterima.
Gus Baha’ kemudian menjelaskan contoh sanad keilmuan dari kitab karya Sayyid Muhammad yang merupakan pengembangan dari karya Sayyid Abbas, yang bersumber dari kitab Al-Itqan karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Sanad keilmuan tersebut, kata Gus Baha’, tersambung hingga Rasulullah SAW.
“Di kitab itu dijelaskan sanadnya sampai Imam Suyuthi, dan Imam Suyuthi menyampaikan sanadnya sampai Rasulullah. Jadi jelas ini pendapat siapa dan versi siapa,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar dalam menjelaskan Al-Qur’an, seseorang tidak menggunakan ungkapan “menurut saya” tanpa dasar keilmuan yang kuat.
“Kalau mengajarkan Al-Qur’an tapi bilang ‘menurut saya’, itu mau mengkaji Al-Qur’an atau mengkaji diri sendiri? Jangan berani ngomong tafsir menurut saya,” tegas Gus Baha’.
Menurutnya, sikap serupa juga harus dijaga dalam diskusi atau debat keagamaan. Gus Baha’ mengkritik mereka yang berdebat agama tanpa menyebut referensi kitab atau mazhab, seolah-olah berperan sebagai mujtahid.
“Orang debat agama kok tidak ada referensi, tidak ada kitabnya, selalu bilang menurut saya. Memangnya Anda mujtahid?” katanya.
Ia menegaskan bahwa perdebatan ilmiah yang benar harus menyebutkan rujukan yang jelas, seperti kitab dalam mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, atau Hanbali.
Lebih jauh, Gus Baha’ menjelaskan bahwa sanad merupakan ciri utama Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia menyebutkan bahwa dalam akidah, Aswaja mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi, dalam fikih mengikuti salah satu dari empat mazhab, serta dalam tasawuf mengikuti jalur Imam Junaid Al-Baghdadi atau Imam Al-Ghazali.
Menurutnya, penyebutan nama imam dan sanad keilmuan sangat penting agar ajaran agama tidak disalahartikan.
“Kalau tidak menyebut sanad, nanti muncul pertanyaan kamu tahu sahabat melakukan itu dari mana? Mau jawab dari mimpi?” ujarnya.
Gus Baha’ mengibaratkan sanad seperti sumber informasi dalam kehidupan modern. Jika seseorang mengetahui suatu tempat dari televisi, maka televisi menjadi sanad informasinya. Begitu pula dalam agama, guru dan ulama menjadi sanad keilmuan.
Ia menegaskan bahwa tanpa sanad, agama bisa dipahami sesuai hawa nafsu, yang berpotensi menimbulkan kesesatan. Hal ini sejalan dengan pandangan para ulama besar, seperti Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa tidak ada ilmu tanpa sanad, serta Imam Ibnu Mubarak yang mengibaratkan penuntut ilmu tanpa sanad seperti orang yang naik ke atap tanpa tangga.
“Sanad adalah senjata orang mukmin,” ujar Gus Baha’, mengutip perkataan Imam Sufyan Ats-Tsauri.
Di akhir penjelasannya, Gus Baha’ menegaskan bahwa warga Nahdlatul Ulama tidak perlu meragukan sanad keilmuannya, karena tradisi keagamaan seperti tahlilan, maulid, ziarah, tawassul, dan istighatsah memiliki sanad yang jelas, bersambung hingga Rasulullah SAW melalui para ulama dan muhadditsin.
“Sanad orang NU itu jelas, sambung-menyambung hingga Imam Bukhari dan para sahabat Nabi,” pungkasnya.

