AktualBanten Bawah Tanah

Belajar Mitigasi Bencana dari Kearifan Lokal Kasepuhan Cisungsang

SAREKAT, LEBAK – Pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan melalui pemetaan wilayah rawan dan simulasi evakuasi. Menjaga hutan, melindungi sumber mata air, serta mempelajari pengetahuan lokal masyarakat adat juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan terhadap bencana ekologis.

Hal itu menjadi fokus kegiatan Pengurangan Risiko Bencana Youth Ecosystem Stewardship (PRB YES!) 2026 yang diselenggarakan DMC Dompet Dhuafa di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, pada 22 hingga 25 Oktober 2026.

PIC PRB YES! 2026, Nurmalita Wisdayasari Putri, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan membangun wawasan pengurangan risiko bencana yang adaptif melalui identifikasi kearifan lokal masyarakat adat.

“Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami dan menerapkan pembelajaran dari masyarakat adat sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana ekologis,” kata Nurmalita.

Pembelajaran PRB YES! dilakukan melalui metode experiential learning, yakni proses belajar melalui pengalaman langsung bersama masyarakat. Rangkaian kegiatan juga mencakup penanaman, pembibitan, diskusi, refleksi, dan residensi ekologi hutan adat.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami hubungan antara kehidupan masyarakat, kelestarian lingkungan, perubahan iklim, dan risiko bencana.

“Proses pembelajaran kemudian diperdalam meluat Residensi Ekologi Hutan Adat, yang menjadi ruang untuk memahami hubungan antara masyarakat Adat, hutan, dan ekosistem, ” kata Nurmalita.

Ia berharap, dari kegiatan ini dapat meningkatkan kapasitas peserta dapat memahami dan menerapkan pembelajaran dari masyarakat Adat, sebagai upaya mitigasi bencana ekologis.

Kang Nochi, Wakil Ketua I Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengingatkan bahwa pengetahuan ekologis masyarakat adat dapat melengkapi pendekatan ilmiah dalam pengurangan risiko bencana.

“Pengalaman membaca kondisi lingkungan dan aturan pemanfaatan ruang dapat menjadi modal untuk mengenali kerentanan wilayah, ” kata Kang Nochi.

Pembelajaran dari Kasepuhan Cisungsang menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak cukup dilakukan melalui pemetaan kawasan rawan dan simulasi evakuasi. Perlindungan ekosistem, pengakuan terhadap pengetahuan masyarakat adat, dan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan juga diperlukan untuk mengurangi risiko bencana

“Masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi melalui pengalaman hidup bersama alam. Praktik tersebut perlu dipelajari dan diperkuat sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana, bukan sekadar dipandang sebagai tradisi budaya,” kata Kang Nochi.

Diharapkan dari pembelajaran PRB YES! 2026, di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem dan ketidakpastian iklim, upaya menghadapi bencana harus dimulai sebelum krisis terjadi. Mitigasi bencana bukan hanya tentang merespons keadaan darurat, melainkan membangun daya tahan lingkungan dan masyarakat sebelum dampak krisis iklim semakin berat.

Sharing is scaring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *