Banten Bawah Tanah

Warga Keluhkan Debu Batubara dari PLTU Suralaya Unit 9-10

CILEGON, SAREKAT – Warga di sekitar PLTU Suralaya Unit 9-10, Kota Cilegon, Banten, mengeluhkan debu hitam yang diduga berasal dari tempat penyimpanan Fly Ash and Bottom Ash (FABA).

Debu tersebut disebut kerap beterbangan ke permukiman dan fasilitas umum, terutama saat cuaca panas disertai angin kencang. Warga mengaku harus berulang kali membersihkan lantai dan perabotan rumah yang dipenuhi debu.

Keluhan itu dirasakan Dani, warga Kampung Kebon Pisang yang tinggal tidak jauh dari kawasan PLTU Suralaya.

Dani mengaku terkejut ketika mendapati lantai rumah dan sejumlah perabotannya dipenuhi debu berwarna hitam setelah ditinggal beberapa hari.

“Bukan rumah saya saja, tapi kata tetangga juga begitu. Bahkan pada saat shalat Jumat, lantai masjid juga terasa berdebu,” kata Dani, Senin (14/9/2026).

Dani menduga debu yang masuk ke permukiman bukan hanya berasal dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurut dia, debu hitam tetap muncul meski aktivitas abu vulkanik di wilayah Cilegon telah mereda.

“Aktivitas debu vulkanik sudah tidak lagi terdeteksi di Cilegon, tapi ini debu hitam terus-terusan ada. Apalagi ketika siang cuaca panas dan angin berembus dengan kencang,” ujarnya.

Menurut Dani, keberadaan debu dari area penyimpanan FABA PLTU Suralaya Unit 9-10 semakin mengkhawatirkan karena lokasi penyimpanan berada berdekatan dengan permukiman warga.

Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan perhatian ketika terjadi peristiwa abu vulkanik, tetapi juga menindaklanjuti keluhan warga mengenai debu yang berulang kali masuk ke lingkungan permukiman.

“Keberadaan fly ash batu bara itu sudah sangat mengkhawatirkan. Tapi tanggung jawab sosial itu nyaris kecil. Jika pun ada, diduga hanya untuk mengamankan orang-orang tertentu,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan seorang ibu rumah tangga, sebut saja Siti. Ia mempertanyakan keberadaan tempat penyimpanan FABA yang berada di sekitar permukiman warga.

Siti juga mempertanyakan keterlibatan ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat yang menyatakan setuju dalam proses pembangunan tempat penyimpanan tersebut.

“Kita orang kecil. Ngeluh ke siapa? Mereka juga tidak mau mendengarkan,” katanya.

Siti mengaku beberapa kali melihat debu beterbangan dari area penyimpanan FABA ketika angin bertiup kencang. Debu tersebut kemudian terbawa angin menuju permukiman dan mengotori rumah warga.

“Kalau angin kencang, debunya kelihatan beterbangan. Masuk ke rumah. Lantai dan barang-barang jadi kotor,” ujarnya.

Keluhan warga tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengelolaan FABA di sekitar PLTU Suralaya Unit 9-10, terutama dalam mencegah material terbawa angin ke kawasan permukiman.

Sementara itu, Humas PLTU Suralaya 9-10 saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp hingga berita diturunkan belum ada jawaban.

Sharing is scaring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *