CatatanKampus

Surat Cinta yang Tak Sampai, Tentang Starla dan Tentang Luka

SAREKAT – CATATAN, Dulu, aku pikir lagu “Surat Cinta untuk Starla” adalah gambaran kisahku sendiri — kisah tentang menemukan seseorang yang akan jadi “yang terakhir.” Ternyata aku salah. Cinta itu kandas, bahkan karena hal yang sepele.

Masih kuingat betul, pertama kali lagu itu viral di mana-mana. Setiap baitnya seperti menyalakan kembali sesuatu yang lama padam di hatiku. Saat itu aku sedang tidak ingin jatuh cinta lagi, tapi entah kenapa, ia datang tiba-tiba. Membawa harapan, menghadirkan ketenangan yang lama hilang. Awalnya kupikir ia hanya “angin lewat”, tapi hari berganti bulan, dan kehadirannya justru menjadi kebiasaan baru yang tak bisa kutinggalkan.

Ia perhatian, lembut, dan pengertian. Siapa yang tak luluh dengan perempuan seperti itu? Ia dikenal di pesantrennya, dihormati sebagai ustadzah muda, dan justru di situlah letak pelajaran paling berharga: kadang, orang yang paling berilmu pun bisa mengajarkan luka paling dalam.

Aku menjalin hubungan dengannya tahun 2020. Padahal lagu “Surat Cinta untuk Starla” sudah menemani hari-hariku sejak 2016, saat awal kuliah. Mungkin karena itu aku mengaitkannya dengan dia. Lagu tentang menemukan cinta terakhir — yang ternyata justru menjadi bab terakhir dari harapanku sendiri.

Lucunya, di awal hubungan, aku bahkan tidak terlalu berusaha mengejarnya. Tapi justru dia yang gigih. Ia bilang, ia suka padaku karena aku “berbeda” dan “punya arah hidup.” Aku sempat mengingatkannya, “hati manusia itu tidak terbuat dari batu, ia bisa berubah,” tapi dia tetap yakin — katanya, akulah yang terakhir untuknya.

Namun cinta yang terlihat kuat di awal, tak selalu bertahan di ujung.

Tahun-Tahun yang Menguras Segalanya

Hubungan kami berjalan dua tahun lebih. Di tahun ketiga, segalanya mulai berubah. Ia mulai sering menuntutku untuk bekerja tetap — entah di pabrik, Indomaret, atau pekerjaan apa pun yang bergaji stabil. Aku paham keinginannya, tapi hidup tak semudah itu. Setelah lulus kuliah, aku mengajar di sekolah sebagai guru honorer. Gajinya pas-pasan, hanya cukup untuk beli bensin. Tapi aku tetap berusaha — berjualan, kerja sambilan, apa pun yang bisa kulakukan demi bisa tetap membuatnya tersenyum.

Namun seiring waktu, kejenuhan datang. Ia mulai sering marah karena hal kecil, lalu kami putus-nyambung berkali-kali. Tapi setiap kali berpisah, selalu ada cara untuk kembali. Aku pikir itu tanda cinta yang kuat — ternyata itu cuma bentuk dari ketergantungan yang sama-sama menyakitkan.

Sampai akhirnya, aku mendapat pekerjaan baru, kontrak memang, tapi lumayan. Dalam hati aku menabung harapan, “mungkin ini waktunya melamar dia.” Tapi kalimat orang tuanya memecah semua semangatku:

“Sudah tahu cari kerja susah, malah cari cowok yang kerjanya kontrak.”

Sejak itu aku sadar, mungkin aku tak pernah benar-benar diterima. Aku bahkan belum pernah dikenalkan ke keluarganya selama tiga tahun hubungan itu. Alasannya sederhana: karena aku belum punya pekerjaan tetap.

Ketika Wisuda Menjadi Tanda Akhir

Saat ia wisuda, aku berharap itu jadi momen kami — aku bisa mengenal orang tuanya, dan mereka mengenalku. Tapi ternyata lagi-lagi hanya aku yang terlalu berharap.

“Nanti aja ya, kalau kamu udah siap semuanya,” katanya pelan.

Hari itu aku hanya menyerahkan bunga, tersenyum, dan pulang dengan hati yang sesak.

Tak lama setelah itu, kontrak kerjaku habis. Aku kembali ke titik bingung, tak tahu harus ke mana. Aku lelah — dengan cinta, dengan ekspektasi, dengan hidup yang seperti tak berujung. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk memutuskan hubungan itu. Karena di kepalaku, ia masih “yang terakhir.” Aku masih percaya, cinta bisa menembus semua keterbatasan.

Nyatanya, tidak

Ia akhirnya memutuskan hubungan ini sepihak. Katanya, aku tak bisa menuruti keinginannya. Semua media sosial diblokir, nomorku juga. Aku pikir itu hanya jeda sementara. Seminggu, mungkin dua minggu. Tapi ternyata berlalu bulan demi bulan — tanpa kabar, tanpa penjelasan. Aku mencoba menerima. Tapi jujur, aku hancur.

Epilog Surat Cinta yang Tak Pernah Dibaca

Kini, setiap kali lagu “Surat Cinta untuk Starla” diputar, ada perih yang tertinggal di dada. Lagu yang dulu terasa manis kini terdengar pahit. Ia bukan lagi lagu tentang cinta terakhir, tapi tentang seseorang yang terlalu cepat menilai — bahwa setiap perhatian berarti keabadian.

Ternyata benar, setia itu menyakitkan.

Karena tak semua kesetiaan dibayar dengan kejujuran.

Kadang, ia dibayar dengan kepergian yang diam-diam tapi mematikan.

Mungkin surat cintaku memang bukan untuk Starla. Mungkin surat ini hanya untuk diriku sendiri yang pernah percaya, terlalu dalam, pada cinta yang salah.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *