Liputan

Skandal “Barcode Ganda” SPBU Giper: Digitalisasi atau Karpet Merah Mafia

BITUNG, SAREKAT – Digitalisasi subsidi melalui sistem barcode sejatinya adalah benteng pertahanan terakhir untuk menjaga keadilan energi. Namun di SPBU Giper, benteng tersebut disinyalir telah ditembus oleh kepentingan kelompok tertentu.

Publik kini melayangkan gugatan tajam: Apakah sistem ini benar-benar berfungsi sebagai pengaman, atau justru bertransformasi menjadi instrumen yang terindikasi kuat melegalkan praktik manipulasi?

Dugaan praktik lancung di lapangan bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan sebuah pola yang diduga kuat bersifat sistemik. Berdasarkan investigasi mendalam yang dilakukan oleh Tim Arsip Hitam6, ditemukan fakta-fakta lapangan yang mengarah pada skema “perampokan” hak subsidi secara terstruktur.

Tim Arsip Hitam6 menemukan indikasi kuat adanya armada yang dibekali dengan dua barcode dan STNK ganda. Secara sistemik, mereka tampak “hijau” atau legal di monitor, namun secara substansi, ini merupakan dugaan penjarahan terhadap hak masyarakat.

Temuan tim di lokasi menunjukkan pengisian dilakukan 2-3 kali sehari tepat saat pergantian shift petugas. Strategi ini diduga sistemik dilakukan untuk memutus mata rantai pengawasan manual dan mengaburkan algoritma transaksi berulang agar tidak terbaca sebagai anomali oleh sistem pusat.

Investigasi mengarah pada dugaan adanya celah yang sengaja diciptakan agar “barcode sakti” ini bebas melenggang tanpa verifikasi fisik yang jujur antara data di layar dengan kendaraan yang mengisi.

Muncul pertanyaan besar, apakah manajemen SPBU Giper tidak mengetahui atau justru disinyalir menutup mata terhadap “mobil siluman” yang mondar-mandir menguras kuota Solar? Sebagai pemilik, Erwin Wurangian memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan usahanya tidak menjadi sarang penyamun subsidi. Terindikasi kuat bahwa tanpa pengawasan internal yang ketat, digitalisasi hanya akan menjadi tameng bagi para mafia untuk bergerak lebih leluasa.

“Mendiamkan praktik ini sama saja dengan membiarkan rakyat kecil tercekik dalam antrean panjang yang melelahkan, sementara ‘barcode sakti’ bebas melenggang tanpa verifikasi yang jujur.” ujar Arsip Hitam6.

Kami, bersama data yang dikumpulkan oleh tim investigasi, mendesak tindakan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan secara publik:
Periksa secara mendalam mengapa satu identitas kendaraan disinyalir bisa memiliki akses ganda dan lolos dari verifikasi sistem pada jam-jam yang identik.
Buka data manifes kendaraan di jam-jam krusial. Jika ditemukan ketidaksinkronan antara fisik kendaraan dan data barcode, maka terindikasi kuat adanya keterlibatan oknum dalam.
Jika terbukti ada kesengajaan membiarkan sistem “lumpuh” demi kepentingan mafia, maka izin operasional SPBU Giper harus dievaluasi secara total oleh pihak berwenang.

Jangan biarkan kedaulatan energi di Bitung dirampok oleh permainan “orang dalam” yang memanfaatkan celah teknologi. Publik mengawasi, tim investigasi terus bergerak, dan kita menuntut keadilan!

#KawalSolarSubsidi #BitungKritis #SPBUGiper #TransparansiBBM #MafiaSolar #UsutTuntas #KeadilanEnergi #ArsipHitam6

Sharing is scaring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *