CatatanLiputanMendalam

Program Lisdes PLN di Ujung Sungai Putih: Saat Energi Berkeadilan Benar-Benar Menyala

 

Di sebuah dusun kecil yang tersembunyi di antara rimba dan aliran Sungai Musi, malam selama bertahun-tahun selalu identik dengan kegelapan. Hanya suara jangkrik dan dengung genset yang menemani warga Dusun 4 Sungai Putih, Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Di tempat itulah, cahaya menjadi kemewahan, bukan hal yang lumrah.

Namun kini, untuk pertama kalinya, warga mulai menatap terang dengan harapan baru. Di tepi sungai yang memantulkan cahaya senja, Rosidin, Kepala Desa Bandar Jaya, menatap gulungan kabel listrik yang baru tiba. Matanya basah, suaranya serak saat mengenang penantian panjang warganya.

“Hampir sepuluh tahun kami menunggu. Alhamdulillah, sebentar lagi Dusun Sungai Putih akan terang lewat Program Lisdes ABT 2025. Listrik ini bukan sekadar lampu, tapi napas baru untuk ekonomi, pendidikan, dan kesehatan kami,” kata Rosidin.

Bagi Rosidin, listrik adalah bentuk keadilan paling nyata. Ia tahu bagaimana warganya hidup dalam gelap selama ini. Banyak anak yang belajar di bawah cahaya minyak tanah, banyak ibu yang menanak nasi di malam hari sambil menahan panas dari genset yang berisik.

Rosidin menambahkan, cahaya yang sebentar lagi tiba bukan akhir dari penantian panjang, melainkan awal dari babak baru bagi desanya. “Kalau nanti malam sudah terang, anak-anak kami akan tahu seperti apa dunia yang tak lagi diselimuti gelap,” katanya.

Salah satunya yang menikmati program Lisdes , Rohiya, 45 tahun, ibu rumah tangga yang tinggal di pinggir hutan. Setiap malam, ia mengeluarkan Rp25 ribu untuk menyalakan genset selama tiga jam, dari pukul enam hingga sembilan malam.

“Kalau tak ada uang, ya gelap-gelapan. Anak-anak tak bisa belajar, kami tak bisa menenun atau bekerja malam. Semoga listrik cepat datang,” katanya dengan senyum getir.

Cerita Rohiya adalah potret dari jutaan keluarga di Indonesia yang hidup dalam ketimpangan energi. Di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) kegelapan masih menjadi kehidupan sehari-hari.

Namun kini, pemerintah berusaha memutus rantai itu lewat Program Listrik Desa (Lisdes). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan infrastruktur kelistrikan di 1.285 desa hingga akhir 2025. Bukan hanya proyek, tapi bagian dari upaya menghadirkan energi berkeadilan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, saat meninjau langsung penyalaan listrik di Desa Bandar Jaya, 16 Oktober 2025, menegaskan bahwa terang listrik adalah hak setiap warga negara.

“Presiden Prabowo menargetkan seluruh Indonesia merdeka listrik pada 2029–2030. Kami bersama PLN akan pastikan tidak ada lagi desa yang tertinggal dalam gelap,” ujarnya.

Bahlil paham, membangun jaringan listrik di daerah terpencil seperti Musi Banyuasin bukan perkara mudah. Biaya tinggi, medan berat, dan infrastruktur minim membuat investasi ini tak selalu menguntungkan secara bisnis. Tapi negara, katanya, tak boleh berhitung untung-rugi ketika bicara keadilan sosial.

“Listrik bukan cuma urusan bisnis, tapi urusan hidup orang banyak,” tegasnya. “Kalau anak-anak tak bisa belajar karena gelap, kalau bidan tak bisa menyalakan alat di malam hari—itu artinya negara belum hadir sepenuhnya.”

PLN menjadi ujung tombak dari misi besar ini. Direktur Utama Darmawan Prasodjo menyebut, di tahun 2025, PLN akan membangun 4.770 kilometer sirkuit (kms) jaringan tegangan menengah, 3.265 kms jaringan tegangan rendah, dan 94.040 kilovolt ampere (kVA) gardu distribusi. Dari situ, lebih dari 77 ribu keluarga akan merasakan cahaya listrik untuk pertama kalinya.

“Ini bukan sekadar angka,” kata Darmawan. “Ini tentang kehidupan yang berubah. Anak-anak bisa belajar malam hari, petani bisa mengeringkan gabah dengan mesin, dan usaha kecil bisa tumbuh.”

Di Sumatera Selatan, program ini menyentuh 11 desa, tujuh di antaranya berada di Musi Banyuasin—termasuk Bandar Jaya, Epil Barat, Kepayang, Mangsang, Muara Merang, Pangkalan Bulian, dan Sako Suban. Setiap lokasi memiliki tantangan tersendiri, yakni ada yang harus membangun jembatan listrik di atas sungai, ada yang harus menarik kabel melalui rawa dan hutan.

Kini bagi warga Dusun Sungai Putih, cahaya bukan lagi sekadar simbol kemajuan, tapi bukti bahwa negara benar-benar hadir. Perlahan tapi pasti, kehidupan di pelosok yang dulu terpinggirkan kini mulai bergerak menuju kesejahteraan. Energi yang adil bukan hanya tentang angka sambungan baru, melainkan tentang memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk tumbuh dan hidup layak.

Inilah makna terdalam dari energi berkeadilan yang diupayakan pemerintah melalui Program Listrik Desa. Dari hutan Musi Banyuasin hingga pesisir timur Nusa Tenggara, listrik menjelma jembatan yang menyambung jarak antara pusat dan pinggiran, antara yang terang dan yang lama terbenam dalam gelap.

Ketika cahaya akhirnya sampai ke rumah-rumah di pelosok, ia membawa pesan sederhana berupa keadilan sosial bukan cita-cita yang jauh, melainkan nyala kecil yang kini benar-benar hadir di tangan rakyat.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *