Mengenal Post Power Syndrome, Bagi Mereka yang Sudah Kehilangan Jabatan dan Pengaruh
JAKARTA, SAREKAT — Istilah post power syndrome kerap muncul dalam perbincangan publik, terutama setelah berakhirnya masa jabatan pejabat, pimpinan organisasi, maupun tokoh berpengaruh. Istilah ini merujuk pada kondisi psikologis yang dialami seseorang ketika kehilangan kekuasaan, jabatan, atau posisi penting yang sebelumnya memberi pengaruh besar dalam kehidupannya.
Post power syndrome itu bukan merupakan penyakit fisik, melainkan gangguan penyesuaian diri akibat perubahan status dan peran sosial secara drastis. Kenapa bisa begini? Karena seseorang yang mengalami ini kerap kali merasa kehilangan identitas, sulit menerima kenyataan karena tidak lagi memiliki wewenang, serta merasakan penurunan kepercayaan diri.
Dalam banyak kasus, kondisi ini ditandai dengan perilaku mudah tersinggung, sering mengenang masa lalu saat berkuasa, merasa tidak lagi dihargai, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Perubahan tersebut umumnya muncul karena jabatan atau kekuasaan sebelumnya telah menjadi bagian utama dari identitas diri.
Post power syndrome dapat dialami oleh siapa saja, terutama mereka yang tidak memiliki kesiapan mental dan aktivitas pengganti setelah masa jabatan berakhir. Karena minimnya peran sosial baru kerap memperberat proses adaptasi terhadap fase kehidupan selanjutnya.
Kondisi ini sebenarnya dinilai sebagai fenomena yang sangat wajar dalam perjalanan hidup seseorang. Cara agar bisa ditangani sesegera mungkin yaitu dengan penerimaan diri dan mengenal diri sendiri, penguatan peran di keluarga dan masyarakat, serta pengelolaan aktivitas yang positif, masa transisi pasca kehilangan jabatan dapat dilalui secara lebih sehat dan bermakna.
Namun, dalam banyak kasus juga banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya yang saat ini berada di posisi terendah, terutama bagi mereka yang mempunyai jabatan dan kekuasaan yang penting, namun sudah tidak lagi ada pengaruh. Maka mereka masih ingin merasakan lagi seperti itu karena pola yang dilakukan keseharian seperti itu saja setiap hari nya.
Banyak cara agar bisa menghilangkan Post Power Syndrome ini yaitu lebih mengenal masa transisi yang selalu berlaku setiap hari nya dan mengenal kembali siapa diri kita sebenarnya. Namun untuk bisa mendapatkan ini semua, merenung menjadi jalan untuk menuju kedamaian dan intropeksi diri setiap hari nya.
Kejayaan masa lalu kadang membuat orang tidak bisa lepas dari jeratan nya. Namun kita pun harus memiliki motivasi lagi, bahwa jika selalu melihat masa lalu tidak akan pernah ada yang berubah untuk ke depannya. Masa lalu membuat kita selalu menjadi tua, sebelum tua itu datang, maka yang selalu muda adalah ia yang selalu berpikir apa yang akan dilakukan setelah ini selesai semua ini.

