Kritik Bukan Musuh Organisasi: Desak HMI Cabang Serang Menjunjung Konstitusi dan Membuka Ruang Demokrasi
SERANG, SAREKAT-Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdiri dikenal sebagai organisasi kader yang menjunjung tinggi nilai-nilai intelektualitas, demokrasi, dan supremasi konstitusi. Perbedaan pendapat, kritik, serta dinamika internal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses kaderisasi dan pendewasaan organisasi.
Namun, belakangan muncul berbagai keresahan dari sejumlah kader terkait ruang demokrasi di tubuh HMI Cabang Serang. Kritik yang disampaikan kader dinilai belum memperoleh ruang yang memadai untuk didengar dan didiskusikan secara terbuka. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi semangat musyawarah serta tradisi intelektual yang selama ini menjadi identitas HMI.
Selain itu, terdapat dorongan agar seluruh proses organisasi, termasuk pelaksanaan agenda-agenda strategis, benar-benar dijalankan sesuai ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta konstitusi organisasi. Kepatuhan terhadap konstitusi merupakan fondasi utama dalam menjaga legitimasi kepengurusan dan kepercayaan kader terhadap organisasi.
Bagas Yulianto, Kader HMI, menegaskan bahwa kritik tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi organisasi, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan HMI.
“Kritik bukan musuh organisasi. Justru kritik adalah wujud kecintaan kader terhadap HMI agar tetap berjalan sesuai konstitusi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerima kritik, membuka ruang dialog, dan menjadikan perbedaan pendapat sebagai kekuatan untuk melakukan perbaikan.”
Ia juga menambahkan bahwa seluruh kader memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah organisasi.
“Kami mengajak seluruh jajaran HMI Cabang Serang agar menjunjung tinggi AD/ART dan nilai-nilai demokrasi organisasi. Jangan sampai konstitusi hanya menjadi dokumen administratif, tetapi harus menjadi pedoman dalam setiap pengambilan keputusan. HMI dibangun di atas tradisi intelektual, bukan budaya anti kritik.”
Bagas berharap seluruh elemen HMI Cabang Serang dapat mengedepankan musyawarah, transparansi, dan penghormatan terhadap hak setiap kader dalam menyampaikan pendapat.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi kader. Yang harus dijaga adalah etika berdialog, penghormatan terhadap konstitusi, dan komitmen bersama untuk menjaga marwah HMI. Organisasi akan semakin kuat apabila kritik dijadikan bahan evaluasi, bukan dianggap sebagai ancaman.”
Melalui pernyataan ini, kader HMI mendorong agar HMI Cabang Serang terus memperkuat budaya demokrasi internal, membuka ruang partisipasi yang luas bagi seluruh kader, serta memastikan setiap kebijakan organisasi tetap berpijak pada konstitusi demi menjaga integritas dan masa depan HMI yang lebih baik.
“Kritik untuk Perbaikan, Konstitusi untuk Persatuan, Demokrasi untuk Kemajuan HMI.”

