Hitungan Umur Masih Jadi Standar Sukses Gen Z, Seberapa Besar Hitungan Umur Mempengaruhi Kesuksesan?
SAREKAT, OTOSIRKEL — Anggapan bahwa kesuksesan harus dicapai pada usia tertentu semakin kuat di kalangan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya berkembang di ruang sosial, tetapi juga mendapat sorotan dalam berbagai penelitian akademik yang menilai adanya tekanan norma usia (age norms) dalam menentukan capaian hidup seseorang.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang standar tidak tertulis terkait tahapan hidup, seperti pendidikan, karier, hingga pernikahan. Dalam penelitian “Age Norms and Career Motivation” (2000), dijelaskan bahwa individu cenderung memiliki ekspektasi kapan seseorang dianggap berhasil berdasarkan usia tertentu. Norma ini memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri maupun orang lain.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya pergeseran dalam memaknai kesuksesan. Studi “The Fluidity of Success Over Time” (2025) menegaskan bahwa kesuksesan di kalangan anak muda bersifat fleksibel dan tidak lagi mengikuti jalur linear tradisional. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa capaian hidup kini lebih dipengaruhi oleh pengalaman personal dan perubahan kondisi sosial, bukan semata-mata usia.
Meski demikian, tekanan untuk “tepat waktu” dalam meraih sukses justru semakin kuat, terutama dengan hadirnya media sosial. Dalam kajian “Social Well-being and Social Success of Youth” (2023), disebutkan bahwa generasi muda memiliki ekspektasi tinggi terhadap masa depan dan cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Hal ini memperkuat persepsi bahwa ada batas usia tertentu untuk dianggap berhasil.
Konsep tugas perkembangan juga turut memperkuat pandangan ini. Teori klasik yang berkembang sejak lama menyebutkan bahwa setiap fase usia memiliki target tertentu, seperti kemandirian ekonomi atau pembentukan keluarga. Namun, penelitian lanjutan yang dipublikasikan di Journal of Adolescence menunjukkan bahwa pencapaian target tersebut tidak selalu berkorelasi langsung dengan tingkat kebahagiaan individu.
Dalam konteks Indonesia, studi terbaru berjudul “Meanings of Success among Adolescents in Aceh” (2026) menemukan bahwa makna kesuksesan di kalangan remaja mulai bergeser. Selain faktor materi, aspek seperti kebahagiaan, keseimbangan hidup, dan penerimaan sosial menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan.
Para peneliti menilai bahwa ketegangan antara standar lama dan realitas baru menjadi penyebab utama munculnya tekanan pada generasi muda. Di satu sisi, norma usia masih kuat mengakar, namun di sisi lain, jalur kehidupan modern semakin beragam dan tidak lagi seragam.
Dengan demikian, para ahli menyimpulkan bahwa kesuksesan tidak dapat lagi diukur secara kaku berdasarkan usia. Pergeseran cara pandang ini dinilai penting untuk mengurangi tekanan sosial sekaligus membuka ruang bagi generasi muda dalam menentukan jalan hidupnya secara lebih fleksibel dan realistis.

