DARI HUTA GADANG KE PASAMAN BARAT : PERJALANAN DAKWAH SYEKH ABDUL KARIM GURU BATUAH
Oleh: Dinda Mawaddah [Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan seni, Universitas Negeri Padang]
TERAS (Lead)
Perjuangan dalam menyebarkan agama islam tidaklah mudah, langkah kaki Syekh Abdul karim Guru Batuah tidak pernah benar- benar berhenti meski raga telah tiada pada tahun 1997. Sosok ulama kharismatik lahir di Desa Huta Gadang, Sumatera utara pada tanggal 10 Januari 1912.
Nama lengkap beliau adalah Abdul Karim Guru batuah Al-Lubsu bin Jamulia. Nama guru batuah ia dapatkan sejak kecil yang telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dengan menghafal ayat-ayat Al-Quran dan beberapa Hadis.
Perjalanan menuntut ilmunya sangat luas, mulai dari menempuh pendidikan dengan cara mengunjungi beberapa guru-guru untuk belajar agama, selain itu beliau juga menmepuh pendidikan Di Besilam Langkat yaitu mengenai tarekat Naqsabandiyah dengan murid dan keturunan Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru.
Body (Tubuh)
Syekh Abdul Karim Guru Batuah adalah salah satu tokoh figur yang dipercaya memiliki kontribusi signifikan dalam penyebaran islam di wilayah Ranah Batahan dan tapanuli selatan., beliau merupakan salah satu tokoh agama yang dipercaya oleh masyarakat sebagai auliya Allah.
Syekh Abdul Karim berdkawah dengan berbagai cara yang mudah di terima oleh masyarakat, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat, menyesuikan dengan kondisi masyarkat tersebut dan berpindah-pindah, yang mana awalnya beliau berdakwah di Sumatrea Utara dengan mendirikan pengajian pengajian dan TPA bagi masyarakat.
Kemudian beliau sampai ke Pasaman Barat dan menjadi figur agama tumpuan bagi banyak orang. Di Pasaman Barat beliau dikenal sebagai ulama besar dengan kedua teman seperguruan beliau, yaitu Tuanku rao-rao yang ahli dalam bidang tarekat suluk dan tuan wali hakim yang ahli dalam bidang kajian pemerintah, sedangkan guru batuah yang ahli dalam bidang fikih dan tasawuf.
Dalam penyampaian dakwahnya, Syekh Abdul Karim menggunakan kata-kata yang mudah di pahami dan menyesuaikan situasi dan kondisi maud’nya agar pesan dakwah yang disampaikan bisa di terima oleh masyarakat.
Adapun strategi yang beliau gunakan dalam penyebaran agama islam bergerak dengan hikmah atau kebijaksaan, beliau tidak sekedar memberi nasehat dan pengajran, tetapi juga mengedepankan sikap bijaksana dalam setiap dakwahnya.
Syekh abdul karim memiliki kemampuan unik untuk meresap ke dalam hati para mad’u sehingga pesan dakwahnya menjadi lebih medalam dan berkesan. Salah satu cara beliau menyebarkan dakwah adalah dengan berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya demi mendirikan Taman Pendidikan Al-Quan (TPA) tanpa mengharapkan imabalan materi.
Warisan dakwah Syekh Abdul Karim tidak berhenti pada dirinya, Putranya melanjutkan jejak langkahnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al- Barkah di Gunung Tua, Pasaman Barat. Pesantren ini menjadi bukti nyata keberlanjutan dakwah beliau yang inklusif, karena menyediakan pendidikan gratis bagi santri yang kurang mampu secara ekonomi.
Melalui pesantren tersebut, Syekh Abdul Karim dan keturunannya membuktikan bahwa dakwah sejati adalah tentang membangun karakter, meningkatkan martabat, dan menciptakan generasi berakhlak mulia melalui keikhlasan yang tulus.
Strategi selanjutnya adalah Mauidzatul hasanah dengan nasehat yang baik, dalam praktik dakwahnya beliau tidak hanya menyampaikan pesan agama secara formal, tetapi juga menanamkan nilai positif melaui interkasi yang hangat dan positif. Pusat penyebaran dakwah beliau bukanlah mimbar-mimbar besar, melainkan lingkungan yang akrab dan personal. Kelompok kelompok, belajar dengan rutin mengujungi rumahnya, serta majelis taklim yang beliau dirikan di mushola, majelis taklim yang diadakan setaip selasa dan jumat dan kegiatan zikir dan pengajian kitab.
Melalui contoh Syekh Abdul Karim, kita dapat belajar bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu menyentuh hati dan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri. Inilah esensi dari mau’idhatul hasanah yang sejati. Terakhir strategi yang dilakukan adalah Mujadalah Bilalati Hiya Ahsan dengan bertukar pikiran dan diskusi dengan cara baik merupakan metode dakwah yang menekankan pada pencarian kebenaran dan bukan sekedar kemenangan argumentasi.
Syekh Abdul Karim dalam menjalankan dakwahnya dengan membuka sesi tanya jawab setelah setiap penyampaian dakwah. Hal ini menumjukkan komitmen beliau dalam menciptakan dialog yang terbuka dan interaktif dengan para mad’u bahkan banyak dari masyarakat yang mengujungi rumahnya hanya untuk diskusi dan bertukar pikiran. Dengan membuka ruang dialog dan diskusi, Syekh Abdul Karim membangun hubungan yang lebih erat dan saling menghormati.
Mujadalah bilalati hiya ahsan bukan hanya sebagai metode dakwah, tetapi juga sebagai bentuk pembelajaran dan pengembangan diri bagi beliau sendiri. Sehingga dakwah yang disampaikan dapat terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan mencerminkan kebijaksanaan dan kerendahan hati Syekh Abdul Karim.
Ending (Penutup)
Dakwah yang diterapkan oleh Syekh Abdul Karim Guru Batuah di Ranah Batahan, Pasaman Barat selama periode 1912-1997 seorang ulama besar yang dikenal luas di Sumatera Utara dan Pasaman Barat memiliki kontribusi signifikan dalam penyebaran islam di kedua wilayah tersebut.
Starategi dakwah yang diterapkan oleh Syekh Abdul karim Guru Batuah terbukti efektif , terbukti dari penyebaran Islam dan meluas di Ranah Batahan dan Tapanuli Selatan. Beliau dikenal dengan sosok yang kharismatik, dan memiliki dedikasi tinggi dalam menyebarkan Islam, penelitian ini memiliki nilai keilumwan yang penting dalam bidang keagamaan Islam dan sejarah perjalanan Islam di Pasaman Barat.
Dapat dipahami bagaimana dinamika penyebaran Islam di wilayah tersebut pada masa lalu, serta mendapatkan inspirasi untuk strategi dakwah kontemporer.


Mantap lanjut kan potensi yang besar harus di tingkatkan, buktikan kita anak dari daerah kecil juga bisa membawa nama besar itu💪