Anggota Dewan Soroti Debu Hitam dari Aktivitas Shutdown PT Krakatau Posco
CILEGON, SAREKAT – Shutdown PT Krakatau Posco memicu hujan debu hitam di Ciwandan. Warga mengeluhkan gangguan kesehatan dan meminta audit lingkungan dilakukan terbuka.
Pada awal Februari 2026, saat perusahaan melakukan perawatan fasilitas, butiran debu hitam turun hingga ke rumah-rumah warga. Partikel itu mengubah warna lantai menjadi kusam. Warga menyebutnya hujan debu.
Beberapa hari sebelumnya perusahaan telah mengedarkan pemberitahuan resmi. Dalam surat tersebut disebutkan perawatan berlangsung 1 hingga 13 Februari dan seluruh proses dinyatakan aman serta dipantau ketat sesuai standar keselamatan.
Secara administratif tidak ada yang keliru. Namun di lapangan warga Ciwandan tetap menerima paparan debu dari aktivitas industri tersebut.
Di lingkungan padat seperti Ciwandan, jarak antara kawasan pabrik dan permukiman sangat berdekatan sehingga dampaknya mudah masuk ke rumah warga.
Anggota DPRD Provinsi Banten, Hasbi Sidik, mengaku ikut merasakan dampaknya. Bukan hanya debu, tetapi juga kebisingan selama proses perawatan. Ia menilai perusahaan terlalu bergantung pada pemberitahuan tertulis tanpa komunikasi langsung yang memadai.
Menurutnya, surat edaran tidak cukup menjelaskan risiko konkret yang akan dialami warga. Dalam konteks industri berat, informasi bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari perlindungan.
Hasbi mengatakan keluhan masyarakat terutama terkait kesehatan. Partikel halus berwarna hitam itu berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi hingga penyakit kronis bila terjadi berulang.
“Perusahaan seharusnya menyiapkan mitigasi teknis yang lebih spesifik untuk wilayah permukiman padat. Penyesuaian operasi saat shutdown penting karena fase ini sering menghasilkan pelepasan material residu,” ujarnya.
Ia mengingatkan perawatan tidak boleh menjadi alasan pembenaran. Justru pada fase itulah kontrol lingkungan harus diperketat.
Di rumahnya yang berjarak tak jauh dari pabrik, seorang warga bernama Roni memperlihatkan serbuk hitam yang ia kumpulkan dari teras. Ia menyapunya pagi hari dan kembali menemukannya sore hari.
Roni menilai setiap perawatan fasilitas harus disertai pengendalian debu agar material tetap berada di area industri. Ia juga meminta audit lingkungan dilakukan secara terbuka agar warga mengetahui tingkat risiko paparan.
Persoalan shutdown di kawasan industri bukan hal baru. Dalam praktik industri, fase pendinginan dan pembersihan kerap menghasilkan pelepasan partikel residu ketika sistem penangkapan debu tidak optimal. Emisi sesaat bahkan dapat lebih tinggi dibanding operasi normal sehingga pengawasan semestinya diperketat.
Masalahnya bukan hanya teknologi, tetapi juga tata kelola komunikasi risiko. Warga tinggal permanen sementara aktivitas industri berlangsung periodik. Surat edaran sering berhenti sebagai prosedur administratif tanpa jaminan rasa aman.
Industri membutuhkan perawatan agar tetap beroperasi aman. Namun bagi warga, keamanan tidak diukur dari prosedur internal perusahaan, melainkan dari udara bersih yang mereka hirup setiap hari.

