Imam Syafi’i dan Pelajaran tentang Luka yang Ditimbulkan oleh Lisan
SAREKAT, TERMINAL – Ungkapan bijak yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i, “Luka-luka di mulut bisa disembuhkan, tetapi luka-luka yang disebabkan oleh mulut tak bisa disembuhkan,” menyimpan makna mendalam tentang pentingnya menjaga ucapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menggambarkan perbedaan antara luka fisik dan luka batin yang timbul akibat perkataan seseorang. Luka fisik pada tubuh, meskipun terasa sakit, pada umumnya dapat pulih dengan sendirinya melalui proses penyembuhan alami atau bantuan perawatan medis. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit akan berkurang dan bekas luka pun sering kali tidak lagi memengaruhi kehidupan seseorang.
Namun, berbeda halnya dengan luka yang ditimbulkan oleh lisan. Kata-kata yang mengandung hinaan, fitnah, cacian, atau penghinaan dapat meninggalkan bekas mendalam pada hati dan pikiran seseorang. Luka semacam ini tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan luka fisik.
Ucapan yang menyakitkan mampu merusak kepercayaan diri, memicu trauma psikologis, hingga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Bahkan ketika permintaan maaf telah disampaikan dan diterima, ingatan terhadap kata-kata yang pernah melukai sering kali tetap membekas dalam waktu yang lama.
Tidak hanya berdampak pada individu, perkataan yang tidak terjaga juga dapat menghancurkan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Persahabatan, hubungan keluarga, hingga ikatan sosial dapat retak hanya karena satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan.
Sebagai ulama besar, ahli bahasa, sekaligus sastrawan, Imam Syafi’i dikenal sering menggunakan ungkapan metaforis untuk menyampaikan pesan moral. Melalui perumpamaan tersebut, beliau mengingatkan bahwa kekuatan lisan tidak boleh diremehkan. Sejalan dengan pesan itu, terdapat pula pepatah Arab yang berbunyi, “Jatuhnya anak panah bisa diobati, tetapi jatuhnya lidah tidak bisa dipulihkan.”
Pesan utama dari nasihat tersebut adalah pentingnya kehati-hatian dalam berbicara. Setiap kata yang keluar dari lisan memiliki konsekuensi dan dapat memberikan pengaruh besar bagi orang lain. Karena itu, seseorang dianjurkan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu manfaat dan dampak dari setiap ucapan yang akan disampaikan.
Pada akhirnya, nasihat Imam Syafi’i menjadi pengingat bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak yang baik. Jika sebuah perkataan tidak membawa manfaat, kebaikan, atau kedamaian, maka diam sering kali menjadi pilihan yang lebih bijaksana. Sebab, menyembuhkan hati yang terluka akibat ucapan jauh lebih sulit daripada menyembuhkan luka fisik yang terlihat oleh mata.

