Terminal

Zaman Sekarang, Dilarang Jadi Orang yang Naif: Refleksi dari Kasus Penerima Beasiswa LPDP

SAREKAT, TERMINAL – Zaman sekarang, manusia tidak lagi hidup dalam ritme yang lambat dan bisa ditebak. Perubahan terjadi begitu cepat, melampaui ekspektasi banyak orang. Dalam hitungan detik, pola hidup, informasi, hingga standar moral publik bisa bergeser. Setiap individu dipaksa untuk adaptif, sigap membaca keadaan, dan mampu menimbang konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil.

Mereka yang tidak siap menghadapi perubahan akan tertinggal—menjadi sisa dari gelombang modernitas yang tak memberi ruang bagi kelengahan. Tanpa arah dan tujuan, manusia seperti ini hanya akan menjadi pengikut arus, hanyut tanpa tahu ke mana akan bermuara.

Dalam konteks inilah, sikap naif menjadi kemewahan yang tidak lagi relevan. Menjadi naif berarti menutup mata dari realitas, enggan membaca risiko, serta gagal memahami bahwa setiap tindakan di era keterbukaan akan memiliki dampak luas—bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada institusi, bahkan negara.

Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika publik dihadapkan pada kasus dugaan pelanggaran oleh penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program beasiswa yang dibiayai oleh negara melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia itu bukan sekadar bantuan pendidikan biasa. Ia adalah mandat publik, amanah rakyat, dan simbol kepercayaan negara kepada generasi terdidik.

Ketika seorang penerima beasiswa LPDP diduga terlibat dalam tindakan yang mencederai nilai moral dan integritas, maka persoalan itu tidak lagi bersifat personal. Ia menjadi refleksi dari kegagalan memahami tanggung jawab yang melekat pada status sebagai penerima dana publik. Di sinilah naif tidak lagi bisa dijadikan alasan—karena setiap penerima beasiswa sadar atau seharusnya sadar bahwa mereka membawa nama bangsa.

Kasus ini menjadi cermin bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup. Dunia modern menuntut integritas, kedewasaan moral, dan kesadaran sosial. Tanpa itu, ilmu yang tinggi justru bisa kehilangan makna, bahkan berpotensi menjadi bumerang.

Di tengah arus zaman yang cepat dan terbuka, masyarakat kini semakin kritis. Publik tidak lagi mudah dibohongi oleh citra. Mereka menilai dari rekam jejak, konsistensi sikap, serta tanggung jawab moral seseorang. Oleh karena itu, setiap individu—terutama yang mendapat kepercayaan negara—dituntut untuk menjaga perilaku, etika, dan komitmen.

Maka, pesan dari zaman ini jelas, jangan menjadi naif. Jadilah manusia yang sadar posisi, paham konsekuensi, dan mampu menjaga amanah. Karena di era keterbukaan seperti sekarang, satu kesalahan saja bisa menjadi catatan sejarah yang tidak mudah dihapuskan.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *