Setidaknya 450 KK Kena Imbas Banjir di Sambirata, Sampai Kapan Wacana Perbaikan Jangka Panjang direalisasikan?
CILEGON, SAREKAT — Banjir yang merendam Kelurahan Sambirata, Kecamatan Cibeber, pada Minggu (11/1/2026) kembali menegaskan buruknya kesiapsiagaan Pemerintah Kota Cilegon dalam mengantisipasi bencana musiman. Hujan deras sejak pagi membuat kawasan itu terendam, namun upaya penanganan baru terlihat ketika genangan semakin tinggi dan keluhan warga makin meluas.
Warga menilai pemerintah bertindak terlalu lambat. “Setiap tahun sama, tidak ada perubahan. Saluran air tidak dibenahi, sungai dibiarkan dangkal,” kata salah satu warga yang terdampak. Beberapa ruas jalan utama bahkan tidak tersentuh petugas hingga sore, membuat aktivitas masyarakat lumpuh total.
Wali Kota Cilegon baru meninjau lokasi ketika kondisi sudah memburuk. Dalam kunjungannya, ia memberikan instruksi penggunaan peralatan sederhana untuk penanganan banjir, tetapi pernyataan tersebut dinilai tidak menjawab persoalan mendasar: mengapa kawasan yang sama terus terendam tanpa solusi jangka panjang.
“Pembangunan ini harus meningkatkan kemampuan kita dalam menangani kesulitan. Saya minta tidak hanya alat berat, tapi juga alat sederhana di wilayah tertentu,” ujarnya.
Namun di lapangan, banyak titik banjir justru tidak memiliki peralatan apa pun—baik berat maupun ringan.
Warga menilai kehadiran Wali Kota sekadar seremoni saja, bukan langkah antisipasi. Mereka juga mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap program normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penanggulangan banjir permanen yang sejak bertahun-tahun hanya menjadi wacana tanpa realisasi nyata.
Hingga malam hari, sebagian genangan setidaknya mulai surut, dan warga masih sibuk membersihkan rumah serta mengevakuasi barang secara mandiri. Pemerintah kembali dituntut untuk tidak hanya hadir saat banjir sudah terjadi, tetapi benar-benar memperbaiki sistem penanganan bencana yang dianggap gagal memberikan rasa aman.

