Terminal

Modernisme: Ketika Budaya Lama Masih Dipakai, Tapi Harus Kelihatan Baru

SAREKAT, TERMINAL – Modernisme itu kayak anak kos yang pengin tampil beda di Instagram, tapi bajunya masih warisan kakak kelas. Dibilang anti-tradisi, eh ternyata masih suka ngutip-ngutip mitologi Yunani. Dibilang pengin jadi maju, tapi referensinya malah balik lagi ke masa lampau. Ironi? Banget. Tapi justru di situlah seninya.

Anak Muda Galau, Tapi Pakai Bahasa Shakespeare

Para tokoh modernis kayak T.S. Eliot, James Joyce, sampai para pelukis surealis itu bisa dibilang kayak anak muda Twitter: merasa dunia ini rusak, hidup absurd, dan semuanya hampa bedanya, mereka nggak bikin utas, tapi puisi dan lukisan.

Tapi lucunya, di balik semua “pembaruan” itu, mereka tetap numpang makan di meja budaya lama. Pura-pura cuek sama tradisi, tapi diam-diam googling arti mitos Hindu dan Buddhisme biar puisinya kelihatan lebih dalam. Sekali lagi: modernisme itu bukan durhaka, cuma anak rebel yang masih nyari jati diri sambil dengerin kaset lama.

Barat Pusing, Timur Jadi Obat

Buat orang Eropa zaman dulu, dunia modern bikin stres: kota padat, mesin berisik, manusia makin robotik. Terus mereka nengok ke Timur. Katanya, di Timur ada “ketenangan batin.” Maka jadilah budaya kita dijadikan semacam spa spiritual. Filosofi Zen? Dipakai. Topeng Jawa? Dipajang di galeri. Tapi pengangguran di tanah jajahan? Ya, itu sih nggak dipikirin.

Kita jadi semacam warung nasi Padang buat modernisme: laris, diambil, tapi tanpa nanya resep.

Modernisme Lokal: Bukan KW, Tapi Custom

Untungnya, waktu modernisme sampai ke tanah air, kita nggak cuma niru. Kita racik sendiri. Chairil Anwar nggak bikin puisi ala Inggris, dia bikin puisi ala Chairil liar, jujur, dan kadang susah dimengerti (bahkan sama guru Bahasa Indonesia). S. Sudjojono juga nggak mau ngelukis bunga di vas kayak pelukis Belanda. Dia pilih lukis rakyat, pasar, dan warung kopi.

Modernisme di sini tuh kayak jaket denim: modelnya dari luar, tapi kita tambahin patch, bordiran, dan mungkin sedikit sobekan biar estetik. Jadi bukan KW, tapi versi lokal yang lebih relate dan nendang.

Modernisme Itu Gaya, Budaya Tetap Raja

Jadi ya, kalau ada yang bilang modernisme itu anti-budaya, kayaknya dia belum baca sejarah. Justru budaya yang lama, yang lokal, yang sering dianggap kuno itu sering jadi bahan utama buat bikin sesuatu yang kelihatan “baru.”

Modernisme itu kayak anak yang ngaku pengin hidup mandiri, tapi masih minta kiriman Indomie dari rumah. Bedanya, dia bakal bilang, “Ini bukan mie instan biasa. Ini simbol eksistensialisme post-kolonial.”

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *