Mengajar Bertahun-tahun, Malah Nasib Honorer ditentukan PPG dan Dapodik
SAREKAT, ESSAY – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan nasional, guru honorer kembali menyuarakan kegelisahan terkait dua instrumen penting dalam sistem pendidikan: Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Keduanya yang semestinya menjadi alat peningkatan mutu justru dianggap menjadi sumber tekanan baru bagi para pendidik non-ASN tersebut.
PPG diposisikan sebagai jalur resmi menuju pengakuan profesional guru, sementara Dapodik berfungsi sebagai basis data utama yang memvalidasi status seorang pendidik. Namun bagi banyak guru honorer, dua sistem ini tidak berjalan sesederhana konsepnya. Sebaliknya, PPG dan Dapodik dinilai menjadi “gerbang sempit” yang menentukan nasib mereka di dunia pendidikan.
Dapodik Dinilai Tak Mencerminkan Realitas Lapangan
Secara teknis, Dapodik dirancang sebagai pusat data pendidikan nasional. Namun, berbagai guru honorer mengaku bahwa sistem tersebut sering kali tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya. Dapodik hanya mencatat angka, jadwal mengajar, serta status administrasi, tanpa mempertimbangkan konteks pengabdian, lokasi mengajar, maupun kondisi sekolah yang kekurangan tenaga pendidik.
Kesalahan kecil dalam penginputan data atau ketidaksesuaian linieritas mata pelajaran dapat berdampak besar. Banyak guru honorer yang sudah bertahun-tahun mengajar terhalang mengikuti PPG hanya karena persoalan teknis tersebut. Kondisi ini membuat Dapodik dianggap bukan sekadar alat bantu, tetapi penentu yang kaku.
PPG Menjadi Simbol Harapan yang Penuh Tekanan
Di sisi lain, PPG yang diharapkan menjadi jalur peningkatan kompetensi justru dirasakan semakin berat. Proses seleksi yang ketat, kuota terbatas, serta persaingan skala nasional membuat banyak guru honorer merasa peluangnya semakin kecil. PPG tidak lagi dipandang sebagai proses pembinaan, melainkan sebagai syarat administratif yang harus dipenuhi demi bertahan dalam profesi.
Tekanan psikologis pun muncul. Setiap pembukaan pendaftaran PPG memicu ketegangan baru, terutama bagi guru yang merasa kompetensi mereka tidak tercermin dalam sistem seleksi.
Ketika PPG Bergantung Penuh pada Dapodik
Masalah semakin komplek ketika akses ke PPG sangat bergantung pada kelengkapan data di Dapodik. Jam mengajar yang tidak linier, status sekolah yang bermasalah, atau data yang tidak valid otomatis menggugurkan kesempatan guru honorer untuk mengikuti PPG. Nasib para pendidik akhirnya seolah ditentukan oleh sistem digital, bukan lagi oleh rekam jejak pengabdian.
Tekanan Mental dan Kebijakan yang Berubah Cepat
Guru honorer juga menghadapi tekanan mental akibat perubahan kebijakan yang dinilai terlalu cepat tanpa transisi yang memadai. Di banyak daerah, keterbatasan jumlah guru sering membuat honorer mengajar di luar bidang studi. Namun ketika aturan linieritas diperketat, kondisi tersebut justru menjadi penghalang bagi mereka mengikuti PPG.
Situasi ini membuat guru honorer harus terus beradaptasi di tengah ketidakpastian, sementara tugas mengajar tetap berjalan.
Ketimpangan Antara Daerah dan Kota
Persoalan semakin terasa bagi guru honorer di daerah terpencil. Minimnya akses internet serta kurangnya operator sekolah membuat pengelolaan Dapodik rawan bermasalah. Kondisi ini memperbesar ketimpangan dengan sekolah-sekolah di perkotaan yang lebih siap secara administrasi dan fasilitas.
Guru honorer di daerah akhirnya harus berjuang dua kali: mendidik generasi muda sekaligus menghadapi sistem yang dinilai tidak ramah terhadap keterbatasan mereka.
Simbol Ketidakpastian Masa Depan
Meski PPG dan Dapodik diakui penting sebagai alat standarisasi dan pendataan, banyak guru honorer menilai keduanya berjalan dengan logika yang terlalu kaku. Selama tidak ada ruang empati dalam pelaksanaannya, keresahan akan terus tumbuh.
Bagi para guru honorer, kombinasi PPG dan Dapodik bukan sekadar sistem administrasi, tetapi simbol ketidakpastian masa depan profesi mereka. Mereka tetap mengajar dan mengabdi, sambil menunggu nasib yang ditentukan oleh layar dan data—bukan oleh dedikasi yang telah mereka curahkan di ruang kelas setiap hari.

