Menavigasi Moral dan Digital: Sinergi Guru, Praktisi, dan Da’i dalam Mendidik Gen Z
JAKARTA, SAREKAT – Tantangan mendidik Generasi Z (1997–2012) di Indonesia memerlukan pendekatan lintas sektor yang menyentuh aspek sosial, profesional, hingga spiritual.
Arus informasi yang deras menuntut pola pendidikan yang tidak lagi satu arah, melainkan kolaboratif dan berbasis keteladanan nyata.
Fondasi Keluarga dan Pengawasan Digital
Samsuar, seorang guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), menekankan bahwa pendidikan karakter harus bermula dari rumah. Ia menyoroti risiko informasi “liar” yang dapat mengikis kepekaan sosial anak terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya.
“Peran mendidik Gen Z harus diberikan treatment dari orang tua terlebih dahulu, baru kemudian dibantu oleh guru di sekolah,” ujar Samsuar.
Ia secara tegas mendukung pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun guna menjaga pola pikir mereka agar tidak salah dalam mengartikan ilmu tanpa bimbingan guru.
Gen Z sebagai Tenaga Pengajar yang Resilien
Dari sudut pandang praktisi pendidikan, Ikram melihat Gen Z sebagai aset yang sangat adaptif dan kritis. Namun, ia mencatat adanya tantangan berupa rendahnya ketahanan terhadap tekanan (instan mental) dan distraksi digital. Dalam memperlakukan Gen Z sebagai rekan sejawat atau tenaga pengajar muda, Ikram menyarankan pola kepemimpinan yang inklusif.
“Mereka tidak nyaman jika terlalu dikontrol tanpa penjelasan. Penting untuk melibatkan mereka dalam diskusi, memberikan apresiasi, dan membangun ketahanan mereka dalam menghadapi kritik dunia kerja,” jelas Ikram.
Perspektif Spiritual: Dakwah Digital dan Keteladanan Akhlak
Melengkapi dimensi pendidikan, Ustadz Rizki memberikan pandangan dari sisi muballigh. Ia melihat potensi besar Gen Z dalam membangun peradaban digital, namun memperingatkan risiko kedangkalan pemahaman agama akibat budaya instan dan ketergantungan pada pengakuan sosial (flexing).
Menurut Ustadz Rizki, pola pendidikan “zaman dulu” yang bersifat satu arah sudah tidak relevan. Pendidik harus hadir di ruang digital yang dekat dengan kehidupan mereka tanpa kehilangan substansi nilai.
“Gen Z cenderung melihat praktik nyata, bukan hanya teori. Maka, akhlak dan suri keteladanan pengajar menjadi bagian krusial dari proses pendidikan itu sendiri,” tegas Ustadz Rizki.
Ia menambahkan bahwa pendekatan empatik sangat diperlukan mengingat tekanan sosial tinggi yang dialami generasi ini.
Kesimpulan: Kolaborasi Lintas Generasi
Ketiga narasumber sepakat bahwa meskipun teknologi adalah elemen tak terpisahkan dari Gen Z, kehadiran sosok guru dan orang tua sebagai kompas moral tetap tidak tergantikan.
Dengan ruang ekspresi yang cukup, bimbingan teknologi yang bijak, dan landasan spiritual yang kokoh, Gen Z diprediksi akan menjadi generasi yang segar, relevan, dan berintegritas.

