Jangan Keburu Marah Kalau Ojol Minta Offline: Bisa Jadi Masalahnya Bukan Driver, Tapi Sistemnya
SAREKAT, TERMINAL – Belakangan ini tidak sedikit penumpang yang mengeluhkan pengalaman ketika memesan ojek online (ojol), tetapi justru ditawari perjalanan secara “offline” oleh pengemudi. Reaksi yang muncul biasanya sama: kesal, bingung, bahkan langsung menyalahkan driver.
Padahal, persoalannya tidak sesederhana “driver malas” atau “driver melanggar aturan aplikasi”.
Sering kali, kita mendengar kalimat bernada marah seperti, “Kalau tidak mau lewat aplikasi, jangan jadi ojol!” Kalimat itu mungkin lahir dari kekesalan penumpang. Namun kenyataannya, banyak pengguna layanan ojol yang belum memahami bagaimana sistem kerja platform tersebut sebenarnya berjalan.
Secara status, pengemudi ojol disebut sebagai “mitra” oleh perusahaan aplikasi. Tetapi dalam praktiknya, pekerjaan mereka tetap diatur dan dikendalikan oleh sistem platform. Mulai dari penentuan tarif, pembagian order, hingga potongan komisi semuanya ditentukan oleh aplikasi.
Masalahnya, tarif yang dibayarkan oleh penumpang tidak sepenuhnya diterima oleh pengemudi. Dari setiap perjalanan, platform mengambil potongan komisi. Sementara itu, driver harus menanggung berbagai biaya operasional sendiri, seperti bensin, servis kendaraan, kuota internet, hingga risiko kecelakaan di jalan.
Dalam banyak kasus, sisa penghasilan yang diterima pengemudi tidak selalu sebanding dengan tenaga dan waktu kerja yang mereka keluarkan.
Belum lagi soal algoritma aplikasi yang menentukan siapa yang mendapat order. Ada kalanya pengemudi harus menunggu lama tanpa mendapatkan perjalanan. Kadang kalah cepat dari driver lain, atau justru mendapatkan order jarak jauh dengan tarif yang relatif kecil.
Sementara itu, platform tetap mendapatkan komisi dari setiap perjalanan yang terjadi.
Di situ lah muncul fenomena tawaran perjalanan “offline”. Bagi sebagian pengemudi, cara ini dianggap sebagai strategi bertahan hidup agar penghasilan mereka tidak terlalu banyak terpotong oleh sistem aplikasi.
Artinya, apa yang dilakukan driver bukan semata soal melanggar aturan. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana mereka berusaha bertahan di tengah tekanan ekonomi dari sistem platform.
Masalah yang sebenarnya justru berada pada model bisnis perusahaan aplikasi itu sendiri. Platform memiliki kuasa besar untuk menentukan tarif, menentukan besaran potongan, hingga mengatur algoritma pembagian order—sering kali tanpa transparansi yang jelas, baik kepada pengemudi maupun penumpang.
Akibatnya, penumpang merasa harga perjalanan semakin mahal. Di sisi lain, pengemudi justru merasa penghasilan mereka semakin kecil. Sementara itu, platform tetap memperoleh keuntungan dari keduanya.
Karena itu, pengemudi ojol sebenarnya adalah pekerja platform, bukan sekadar “driver aplikasi”.
Daripada penumpang dan pengemudi saling menyalahkan, mungkin yang lebih penting adalah mendorong sistem yang lebih adil: tarif yang layak, potongan platform yang transparan, serta perlindungan kerja bagi para pengemudi.
Sebab di balik setiap jaket hijau yang kita lihat di jalan, ada pekerja yang sedang berjuang bertahan hidup di dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada mereka.
Dan pada akhirnya, tidak heran jika banyak penumpang memilih memberi tips kepada driver—bukan sekadar kebaikan hati, tetapi mungkin juga karena menyadari bahwa sistemnya memang belum sepenuhnya adil.

