Fenomena Kesehatan Mental Tren Dalam Media Sosial
Oleh: Erry Indriani. S. Psi, M.Psi, Psikolog, C.PHt (Erawijaya Consultant)
Fenomena saat ini dimana kesehatan mental atau istilah-istilah psikologi hanya ditampilkan di permukaan saja tapi sering kali kehilangan kedalaman dan fungsi aslinya.
Pernah tidak, sedang asyik scrolling lalu tiba-tiba ada video lalu kamu bilang Wah, ini aku banget.
Belakangan ini saya melihat kita semua sedang terjebak dalam fenomena Media sosial membuat kesehatan mental seolah-olah jadi tren yang bisa kita pilih labelnya sesuka hati hanya dalam durasi 30 detik. Padahal, memahami diri itu jauh lebih luas dari sekadar algoritma.
Dalam Teori Psikologi sendiri banyak yang perlu dipahami. Secara Teori maupun secara praktek dilapangan. Karena memahami diri adalah bentuk kesadaran diri.
Memahami diri itu butuh kedalaman: Media Sosial Hanya Memberi Kita Informasi Instan
Sebagai seorang praktisi psikolog saya sering melihat orang datang ke ruang konseling dengan membawa “label” yang mereka kumpulkan dari media sosial.
Mereka merasa sudah mengenal diri karena merasa relate dengan potongan video berdurasi 30 detik. Namun, dalam psikologi, ada jurang yang sangat lebar antara informasi instan dan pemahaman diri yang transformatif.
Padahal memahami diri adalah bentuk kesadaran. Dalam teori Humanistik, bentuk memahami diri adalah bentuk perjalanan dari pengalaman seorang Individu. Sehingga perlu dipahami secara mendalam.
Memahami Diri Itu Butuh Kedalaman Bukan Sekadar Scrolling
Kedalam Memahami diri itu mutlak tidak secepat seperti jempol kita men scolling.
Mengenal diri sendiri dalam psikologi, atau self awareness, adalah kemampuan seseorang memahami sifat, emosi, pikiran, kelebihan, dan kekurangan diri secara menyeluruh. Ini adalah proses seumur hidup karna manusia sebagai makhluk yang terus berkembang, berubah, dan beradaptasi seiring dengan pengalaman hidup, usia, dan interaksi sosial.
Kesadaran diri adalah konsep fundamental dalam psikologi yang berperan penting dalam pengembangan pribadi dan kualitas hidup seseorang.
Kesehatan mental yang tangguh tidak dibangun di atas seberapa banyak kita relate dengan video berdurasi 30 detik. Jangan biarkan algoritma mendikte narasi tentang siapa diri anda.

