AktualLiputan

Desa Terate Siap Jadi Kampung Nelayan Merah Putih

 

Sore itu, Rahmat, nelayan berusia empat puluh tahun, memeriksa perahu kayunya yang telah menemaninya tiga tahun terakhir melaut. Di pangkalan nelayan Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, ia bersiap untuk kembali melaut, seperti hari-hari biasanya mencari hasil tangkapan ikan di perairan Teluk Banten.

“Kalau ombak sedang bersahabat, hasilnya lumayan. Tapi kalau sedang susah, ya cuma cukup buat makan,” ujarnya pelan saat tim Sarekat menemuinya, Selasa 4 November 2025.

Rahmat lahir dan besar di Pesisir Teluk Banten, tapi laut yang dulu memberinya masa depan kini terasa kian jauh. Harga solar naik, hasil tangkapan menurun, pelabuhan nelayan seadanya.

“Sekarang banyak yang memilih kerja serabutan di pabrik,” katanya, seolah mengaku kalah pada lautan yang telah puluhan tahun ditaklukkan.

Namun, di tengah muram itu, kabar baru berhembus dari rekan-rekanya di Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), disebutkan Pemkab Serang berencana menjadikan Desa Terate sebagai bagian dari Kampung Nelayan Merah Putih. Program itu, akan merevitalisasi fasilitas nelayan agar tumbuh dan maju.

“Kalau benar jadi, kami dukung. Kami ingin tetap hidup tanpa harus meninggalkan laut,” kata Rahmat.

Kabar itu sampai ke nelayan di Desa Terate yang membawa harapan perubahan pada nelayan. Namun di lapangan, Rahmat tahu jalan menuju kesejahteraan tak semudah itu. Solar masih mahal, hasil tangkapan kerap tak laku, dan ikan sering membusuk sebelum sempat dijual.

“Kalau punya tempat penyimpanan dan harga solar lebih murah, kami bisa hidup lebih baik,” ujarnya.

Semangat Baru, KNMP di Desa Terate

Program Kampung Nelayan Merah Putih digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai strategi nasional memperkuat kedaulatan pangan laut dan kesejahteraan pesisir. Ia menjadi bagian dari visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sebagai upaya membangun ekonomi dari desa, menegakkan kemandirian lewat laut.

KKP menargetkan pembangunan 1.000 kampung nelayan dalam lima tahun, dimulai dari 100 lokasi pada 2025, dengan total anggaran Rp2,2 triliun. Setiap kampung akan dilengkapi fasilitas lengkap, berupa kapal perikanan, cold storage, pabrik es, tambatan kapal, SPBN, hingga koperasi nelayan.

“Setiap kampung bisa menyerap 70 tenaga kerja baru. Ini bukan sekadar proyek, tapi transformasi,” kata Mahrus, Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Ditjen Perikanan Tangkap KKP, di Jakarta dalam sebuah kesempatan konferensi pers.

Saat ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menjaring desa pesisir dan kampung budidaya potensial sebagai lokasi program Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini dirancang khusus untuk mengubah wajah desa pesisir dan kampung budidaya menjadi lebih produktif dan terintegrasi dalam menghasilkan produk perikanan yang berdaya saing, seperti harapan nelayan Desa Terate, menjadi lokasi yang ditetapkan sebagai Kampung Nelayan Merah Putih.

Pelaksanaan program Kampung Nelayan Merah Putih melibatkan pemerintah daerah untuk menjaring lokasi potensial. Hal ini guna memastikan pelaksanaan program berjalan optimal dengan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Kini pada tahap awal KKP menargetkan pembangunan 100 Kampung Nelayan Merah Putih. Kriterianya yaitu, mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan/pembudidaya ikan lebih dari 80%, ketersediaan dan status lahan clear and clean untuk pembangunan fasilitas produksi lebih dari 1 hektare, memiliki potensi sumber daya ikan, budidaya ikan, dan wisata bahari yang dapat dikembangkan, serta terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih.

Di lokasi terpilih, KKP akan membangun sejumlah fasilitas seperti dermaga, gudang beku, balai pelatihan, pabrik es, sentra kuliner, menara pandang, docking kapal, tempat pelelangan ikan besarta drainase dan IPAL, hingga gedung perkantoran.

Program Kampung Nelayan Merah Putih merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pembangunan 1.100 kampung.

Menyambut baik program ini, Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, menegaskan komitmen yang akan mendukung pelaksanaan program Kampung Nelayan Merah Putih. Ia akan mengusulkan Desa Terate masuk dalam daftar prioritas.

“Kami ingin nelayan di sini sejahtera dan berdaya saing atas hasil tangkapannya,” katanya dalam pertemuan dengan HNSI di Lapangan Sigelenter, 30 Oktober 2025.

Bupati Zakiyah sudah mengkaji bersama stackholder mengenai pemenuhan syarat dari KKP, seperti minimal 80 persen penduduk desa harus berprofesi sebagai nelayan atau pembudidaya ikan.

“Kami sudah lihat kelayakannya, saya yakin Desa Terate memenuhi syarat itu,” ujar Bupati Zakiyah. Optimismenya beralasan, hampir seluruh warga Terate hidup dari laut, nelayan dan menjemur ikan asin.

Bupati Zakiyah menegaskan pentingnya sinergi pusat dan daerah agar program tak berhenti di atas kertas. “Ini bukan soal bantuan, tapi perubahan. Nelayan harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri,” katanya.

Untuk memastikan program itu tak sekadar janji, Bupati Zakiyah menegaskan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia menyebut pihaknya telah menyiapkan tim lintas dinas, mulai dari perikanan, infrastruktur, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mengawal realisasi Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Terate.

Selain itu, Zakiyah menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur perikanan di tingkat daerah. Saat ini, terdapat 12 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang tersebar di Kabupaten Serang, namun sebagian besar masih beroperasi dengan fasilitas terbatas.

“Kita tidak ingin program ini berhenti di rencana. Pemerintah daerah siap berjalan bersama KKP agar Desa Terate benar-benar menjadi contoh kampung nelayan yang mandiri. Kalau fasilitasnya lengkap, nelayan bisa lebih cepat menjual hasil tangkapan dan kualitas ikan bisa terjaga,” tuturnya.

Pangan Biru untuk Indonesia Maju

Bagi Rahmat dan puluhan nelayan lainnya, program Kampung Nelayan Merah Putih bukan sekadar pembangunan fisik. Ia melihatnya sebagai bentuk pengakuan, bahwa nelayan bukan pelengkap statistik ekonomi, melainkan penjaga batas kedaulatan pangan biru negeri.

“Kami punya andil menjaga laut ini. Dari sinilah pangan biru itu berasal,” ujarnya, menyinggung konsep Blue Food yang kini digaungkan dunia—bahwa masa depan pangan manusia ada di laut.

Di tepi tambatan perahunya, ia berbisik, “kami cuma ingin laut ini tetap hidup, membawa manfaat untuk semuanya.”

Kampung Nelayan Merah Putih, bagi Rahmat bukan sekadar proyek pemerintah. Ia adalah simbol, bahwa merah putih tak hanya berkibar di darat, tapi juga di perahu-perahu kecil yang menantang gelombang.

Dari Desa Terate, ombak harapan itu datang membawa pesan sederhana dari nelayan kepada negeri, “kesejahteraan bukan hadiah, melainkan hasil kerja keras yang dibangun bersama, dari laut hingga ke darat.”

 

 

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *