Cerita Warga Terdampak PLTU Suralaya: Akses Kerja dan Kesehatan Tertutup

CILEGON, SAREKAT –Menjelang azan magrib, ruang pertemuan itu terasa hangat dan sederhana. Gelas teh, kurma, dan kotak makanan tersusun di atas meja panjang kafe. Para peserta duduk melingkar sambil menunggu waktu berbuka puasa Ramadan.
Diskusi bertajuk “Membuka Bersama Masa Depan Cilegon yang Lestari dan Berkeadilan” berlangsung santai di Kamis, 12 Maret 2026. Diskusi dimulai dari warga terdampak PLTU Suralaya yang mengalami banyak intervensi.
Salah satu yang berbicara adalah Edi Suryana. Ia warga Suralaya yang hidup tidak jauh dari kompleks PLTU.
Kang Edi menyaksikan sendiri perubahan yang terjadi sejak industri berdiri di kampungnya. Menurutnya, kebijakan paling ironis adalah ketika warga sekitar tidak banyak yang bekerja di dalam kawasan pembangkit.
“Selama ini yang bekerja dari lingkungan kami hanya delapan orang. Dan itu hanya cleaning service dan security,” kata Kang Edi, nelayan tradisional yang masih tersisa di perairan Selat Sunda.
Kalimat itu membuat suasana cafe sejenak sunyi. Angka itu terasa kecil untuk sebuah industri besar. Di atas kertas, PLTU Suralaya adalah salah satu pemasok listrik terbesar di Jawa.
Kompleks pembangkit listrik itu berdiri sejak akhir 1980 an. Unit baru terus direncanakan dan listriknya mengalir ke Pulau Jawa – Bali.
Namun cerita warga di sekelilingnya berbeda. Industri berdiri sangat dekat dengan kampung. Tetapi akses pekerjaan tidak banyak berubah.
Edi mengatakan anak muda Suralaya sering disebut tidak memiliki keterampilan. Label itu sudah lama melekat. Pihak perusahaan menganggap warga sekitar tidak siap masuk ke sektor industri.
Menurut Edi, masalahnya bukan sekadar kemampuan. Ia melihat tidak ada proses yang benar-benar membuka kesempatan belajar. Pelatihan teknis sesuai kebutuhan industri tidak pernah diberikan kepada masyarakat sekitar.
“Mereka melihat cerobong setiap hari. Tetapi mereka tidak pernah diajak memahami cara kerja industri itu. Orang muda di sini dianggap tidak punya skill,” kata Edi.
Kang Edi menduga, muungkin pihak industri lebih senang kalau warga sekitar tidak tahu apa apa. Salah satunya membatasi tenaga kerja lokal agar segala masalah di dalam tidak diketahui.
Intervensi Kesehatan
Kang Edi juga berbicara tentang kesehatan. Ia mengatakan polusi dari pembangkit tidak selalu terasa langsung. Dampaknya tidak mudah dikenali dalam waktu dekat.
“Fly ash itu tidak seperti makan cabai. Tidak langsung terasa. Kadang baru terasa puluhan tahun kemudian, ” katanya.
Kekhawatiran itu muncul dari pengalaman pribadi. Suatu waktu anaknya mengalami gangguan pada saluran pernapasan. Ia membawa anaknya berobat hingga ke Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Pengalaman itu membuatnya mencari informasi lebih jauh. Ia ingin tahu sebab penyakit yang diderita anaknya, apakah berkaitan dengan polusi udara?
Sejauh membawa anak berobat, rupanya intervensi kesehatan diduga sama seperti rumah sakit di daerahnya yang menutupi hasil uji leb sebenarnya.
Kang Edi mengatakan warga pernah mencoba meminta data penyakit dari dinas kesehatan. Informasi tentang infeksi saluran pernapasan akut di wilayah sekitar tidak terbuka dengan mudah.
“Sekadar meminta data ke dinas kesehatan saja sulit. Itu yang membuat kami curiga ada intervensi terhadap data kesehatan,” tegas Kang Edi.
Perubahan juga terlihat jelas pada wajah kampung Suralaya. Edi masih mengingat masa ketika daerah itu memiliki sawah luas dan perbukitan hijau. Pesisirnya memiliki pantai yang ramai dikunjungi warga.
Pantai itu dikenal dengan nama Pantai Kelapa Tujuh. Warga datang untuk memancing dan bermain di tepi laut. Tempat itu menjadi ruang rekreasi sederhana bagi masyarakat di Kota Cilegon.
Kini sebagian besar lanskap itu berubah. Kawasan industri dan infrastruktur pembangkit menggantikan bentang alam lama. Ruang terbuka yang tersisa menjadi sangat terbatas.
Di dekat pembangkit kini terdapat kawasan yang disebut Ecopark. Menurut Edi, area itu dulu adalah sawah luas milik warga. Lahan tersebut berubah fungsi ketika kawasan industri berkembang.
“Sekarang cuma taman kecil lalu disebut ruang terbuka hijau. Tidak sebanding dengan yang dulu, ” kenang Kang Edi.
Surplus Listrik Hingga 41%
Dalam diskusi yang sama, Dany Setiawan dari Ridzoma Indonesia menyoroti situasi energi nasional. Ia mengatakan sistem listrik Jawa Bali saat ini memiliki kelebihan pasokan.
Menurutnya bahkan PT PLN sudah mengakui kondisi itu. Surplus listrik di jaringan Jawa Bali mencapai sekitar empat puluh satu persen.
Jika pasokan sudah berlebih, ia mempertanyakan alasan mempertahankan pembangkit batu bara lama. Beberapa unit di Suralaya sudah beroperasi selama tiga hingga empat dekade.
Mesin lama membutuhkan lebih banyak batu bara. Konsumsi bahan bakarnya tinggi. Emisi yang dihasilkan juga lebih besar dibandingkan teknologi pembangkit baru.
“Mesin lama berarti penggunaan batu bara makin banyak>Polusi yang dihasilkan juga lebih besar, ” kata Dany yang menilai unit lama PLTU Suralaya layak pensiun.
Padahal wilayah barat Pulau Jawa memiliki banyak sumber energi alternatif lebih ramah lingkungan dan murah. Energi surya, angin, dan arus laut memiliki potensi besar. Namun pengembangannya masih sangat terbatas.
Namun di luar ruang diskusi, cerobong PLTU tetap berdiri tinggi di pesisir Suralaya. Asap-aspa pekat terus dimuntahkan. Pembangkit itu terus menghasilkan listrik dalam jumlah besar.
Listrik itu menerangi pulau Jawa. Namun di kampung yang paling dekat dengan pembangkit, mereka ingin tahu apakah terang itu juga akan sampai ke kehidupan mereka?

