Refleksi Soe Hok Gie: Ketika Ambisi Mengalahkan Kemanusiaan
SAREKAT, TERMINAL – Salah satu kutipan yang kerap dikaitkan dengan tokoh aktivis dan intelektual Indonesia, Soe Hok Gie, masih terasa relevan hingga saat ini. Kutipan tersebut berbunyi, “Saya jijik melihat orang-orang ambisius yang rela menginjak kepala temannya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.”
Kalimat tersebut tidak sekadar kritik terhadap ambisi, melainkan peringatan tentang bagaimana hasrat meraih kekuasaan atau kedudukan dapat mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena semacam ini masih sering ditemukan, baik di lingkungan kerja, organisasi, maupun dunia politik.
Pada dasarnya, ambisi bukanlah sesuatu yang buruk. Ambisi menjadi pendorong seseorang untuk berkembang, berkarya, dan mencapai tujuan yang lebih baik. Tanpa ambisi, kemajuan individu maupun masyarakat akan sulit terwujud. Namun persoalan muncul ketika ambisi tidak lagi dibatasi oleh moral dan etika.
Ketika seseorang mulai menghalalkan berbagai cara demi mencapai posisi yang diinginkan, maka ambisi berubah menjadi nafsu kekuasaan. Dalam kondisi tersebut, persahabatan, loyalitas, bahkan rasa kemanusiaan kerap menjadi korban.
Fenomena ini dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Di lingkungan kerja, misalnya, tidak sedikit orang yang tampak ramah di depan namun diam-diam menjatuhkan rekan sendiri demi memperoleh keuntungan pribadi. Dalam organisasi, semangat perjuangan terkadang hanya dijadikan kendaraan menuju jabatan. Sementara dalam dunia politik, kepentingan pribadi sering kali dibungkus dengan narasi pengabdian kepada masyarakat.
Ironisnya, mereka yang gemar berbicara tentang loyalitas, persaudaraan, dan pengabdian terkadang justru menjadi pihak pertama yang meninggalkan nilai-nilai tersebut ketika peluang kekuasaan terbuka di hadapan mereka. Teman seperjuangan berubah menjadi pesaing, sementara orang-orang yang pernah membantu sering kali dilupakan.
Di sinilah kritik yang terkandung dalam kutipan Soe Hok Gie terasa begitu tajam. Ia bukan mengecam keinginan seseorang untuk maju, melainkan menyoroti mereka yang menjadikan orang lain sebagai pijakan untuk mencapai tujuan pribadi.
Masyarakat perlu belajar membedakan antara mereka yang benar-benar bekerja dan meningkatkan kapasitas diri dengan mereka yang hanya pandai mencari panggung. Orang yang layak mendapatkan posisi biasanya lebih fokus memperbaiki kemampuan dan menghasilkan karya, bukan sibuk menjatuhkan orang lain.
Kedudukan yang diperoleh melalui cara-cara tidak terhormat juga kerap membawa konsekuensi tersendiri. Di balik keberhasilan yang terlihat, sering kali tersimpan rasa takut akan terbongkarnya berbagai cara yang digunakan untuk meraih posisi tersebut. Ketakutan kehilangan jabatan dan kekhawatiran akan perlakuan serupa dari orang lain menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat juga kerap terjebak pada penilaian yang hanya berfokus pada hasil akhir. Seseorang yang berhasil mencapai posisi tinggi sering langsung mendapat pujian tanpa mempertanyakan proses yang ditempuh. Padahal, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari cara memperolehnya.
Kemenangan yang dibangun di atas pengkhianatan dan pengorbanan orang lain bukanlah kemenangan yang sehat. Keberhasilan semacam itu mungkin terlihat gemilang dari luar, tetapi menyimpan kerusakan moral di dalamnya.
Pesan yang dapat dipetik dari refleksi ini sesungguhnya sederhana. Keinginan untuk berhasil tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan. Ambisi harus berjalan beriringan dengan integritas. Mimpi besar tetap dapat dikejar tanpa harus menjadikan orang lain sebagai korban.
Lebih baik mencapai puncak secara perlahan dengan cara yang bersih daripada meraih kesuksesan secara cepat dengan mengorbankan banyak orang. Sebab jabatan dan kedudukan pada akhirnya bersifat sementara. Kekuasaan dapat berakhir, popularitas dapat memudar, dan tepuk tangan dapat berhenti.
Namun luka yang ditinggalkan kepada orang lain sering kali bertahan jauh lebih lama daripada masa kekuasaan itu sendiri. Karena itu, berambisilah setinggi mungkin, tetapi jangan kehilangan akhlak. Kejarlah prestasi dan kedudukan, namun jangan sampai dikenang sebagai orang yang berhasil karena pandai menginjak sesamanya.
Pada akhirnya, manusia yang benar-benar besar tidak perlu mengecilkan orang lain untuk terlihat tinggi.

