Terminal

Lama-lama saya jadi muak dengan Instagram, Hook nya gengsian semua, aslinya keropos

SAREKAT, TERMINAL – Ada satu fase yang mungkin sedang dialami banyak anak muda hari ini yaitu membuka Instagram bukan lagi bikin senang, tapi bikin capek.

Awalnya kita masuk media sosial untuk mencari hiburan, melihat kabar teman, atau sekadar membunuh waktu. Namun semakin lama, linimasa terasa seperti etalase kehidupan sempurna. Semua orang tampak sukses. Semua orang tampak bahagia. Semua orang tampak punya hidup yang lebih menarik daripada kita.

Ada yang baru beli mobil. Ada yang liburan ke luar negeri. Ada yang pamer pencapaian karier. Ada yang mengunggah hubungan asmara yang terlihat tanpa masalah. Semua terlihat rapi, indah, dan mengagumkan.

Masalahnya, kehidupan nyata tidak pernah serapi feed Instagram.

Rafi (22), seorang mahasiswa di Jakarta, mengaku mulai mengurangi penggunaan Instagram karena merasa platform tersebut semakin jauh dari realitas.

“Lama-lama saya muak dengan Instagram. Isinya gengsi semua. Orang berlomba-lomba terlihat sukses dan bahagia. Padahal kalau ngobrol langsung, ternyata banyak yang lagi stres, banyak utang, atau lagi bingung sama masa depannya,” ujarnya.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Media sosial memang memungkinkan seseorang memilih bagian terbaik dari hidupnya untuk ditampilkan ke publik. Yang diposting biasanya momen bahagia, bukan saat rekening menipis. Yang muncul di story biasanya senyuman, bukan kecemasan yang datang tengah malam.

Akibatnya, banyak pengguna tanpa sadar mulai membandingkan kehidupan nyata mereka dengan kehidupan digital orang lain.

Nabila (21), seorang pekerja muda di Tangerang, mengatakan bahwa tekanan untuk terlihat keren di media sosial justru membuat banyak orang kehilangan kejujuran.

“Kadang saya merasa orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun hidupnya sendiri. Yang penting kelihatan sukses dulu, urusan kenyataannya belakangan,” katanya.

Ironisnya, di tengah banjir konten motivasi dan pencapaian, banyak anak muda justru merasa semakin tidak percaya diri. Bukan karena hidup mereka buruk, melainkan karena terus-menerus disuguhi standar kehidupan yang sulit dicapai.

Padahal kenyataannya, hampir semua orang sedang berjuang dengan masalahnya masing-masing.

Orang yang tampak kaya bisa jadi sedang terlilit cicilan. Orang yang terlihat bahagia bisa jadi sedang menghadapi masalah keluarga. Orang yang tampak sukses bisa jadi sedang kelelahan mempertahankan semuanya.

Mungkin karena itulah sebagian Gen Z mulai melakukan digital detox. Mereka memilih mengurangi waktu bermain media sosial, membatasi konsumsi konten, atau bahkan menghapus aplikasi tertentu demi menjaga kesehatan mental.

Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan soal siapa yang paling estetik di Instagram.

Kehidupan adalah tentang bagaimana kita bertahan di dunia nyata.

Dan semakin ke sini, banyak anak muda mulai sadar bahwa validasi dari layar ponsel tidak selalu sebanding dengan ketenangan yang mereka cari dalam hidup. Kadang yang dibutuhkan bukan tambahan followers, melainkan ruang untuk menjadi manusia biasa tanpa harus terlihat luar biasa setiap saat.

Sharing is scaring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *