Melintasi Waktu, Menjaga Marwah: Jejak Langkah Sahrir Albar Bafagih
MANADO, SAREKAT – Di balik sosoknya yang tenang, Sahrir Albar Bafagih, S.IP. adalah seorang petarung gagasan yang telah ditempa oleh kerasnya dunia pergerakan sejak mahasiswa. Baginya, politik, bisnis, dan pengabdian adalah satu tarikan napas perjuangan yang tak terpisahkan.
Pria kelahiran Manado ini merupakan jebolan FISIP Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Namun, ruang kelas bukan satu-satunya tempat ia belajar. Di masa mudanya, Sahrir dikenal sebagai aktivis yang vokal.
Ia pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Manado, sebuah kawah candradimuka yang membentuk karakter kepemimpinannya dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di Sulawesi Utara.
Loyalitasnya pada organisasi berbasis Nahdlatul Ulama (NU) terus mengakar hingga ke jenjang senior. Sahrir tercatat pernah menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Utara. Tidak hanya di balik meja administrasi, ia juga terjun langsung sebagai komandan lapangan dengan mandat sebagai Kasatkorwil Banser Sulawesi Utara.
Dalam seragam loreng kebanggaannya, ia memimpin ribuan personel untuk menjaga ulama dan memastikan kerukunan umat beragama di tanah Nyiur Melambai tetap kokoh.
Tak hanya itu, Sahrir kemudian mendirikan dan memimpin Lembaga Pemberdayaan Keumatan Khaira Ummah sebagai Ketua Umum. Melalui lembaga ini, ia aktif menginisiasi gerakan sosial, termasuk menyelenggarakan seminar bela negara dan siaga menanggulangi radikalisme. Fokusnya jelas: memastikan umat tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan ideologi yang kokoh.
Kiprah Sahrir meluas hingga ke sektor strategis. Di dunia korporasi, ia dipercaya sebagai Direktur PT Cipta Pusaka Utama dan Komisaris PT Lima Daya Sentosa. Pengalaman manajerial ini kemudian ia sinkronkan dengan visi pemberdayaan umat melalui peran sebagai Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) serta menjabat Ketua HPN Sulawesi Utara.
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” ungkapnya mengutip hadis populer. Visi ekonominya jelas: membawa pengusaha santri naik kelas agar mampu menjadi tangan yang memberi, bukan sekadar menerima. Ia ingin membuktikan bahwa kemandirian ekonomi umat adalah kunci untuk menjaga martabat bangsa.
Ketertarikannya pada perubahan sosial akhirnya membawa Sahrir ke panggung politik melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada Pemilu 2024, ia maju sebagai Caleg DPRD Kota Manado dari Dapil 3 (Tuminting, Bunaken, dan Bunaken Kepulauan). Di wilayah pesisir ini, ia membawa semangat perubahan yang telah ia pupuk sejak di PMII, Ansor, hingga kursi pimpinan perusahaan.
Kini di usia 51 tahun, Sahrir Albar Bafagih terus membuktikan bahwa integritas seorang pengusaha, ketegasan seorang komandan Banser, dan visi seorang aktivis bisa berjalan beriringan.
Baginya, setiap jabatan baik di organisasi pergerakan maupun perusahaan adalah alat untuk menebar manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Di usianya yang setengah abad, langkah Sahrir belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Ia masih terus berlari, membawa satu napas perjuangan yang tak pernah putus.

