Uang dari Ketiadaan: Ilusi Kelangkaan dan Sistem yang Memelihara Kemiskinan
SAREKAT, TERMINAL – Awalnya uang kertas adalah resi atau bukti tanda titip emas yang dikeluarkan oleh tempat penitipan emas (cikal bakal bank). Sebuah fenomena menarik dimana; “Emas titipan jarang diambil sekaligus oleh pemiliknya” membuat tempat penitipan emas mulai mencetak resi kosong (resi tanpa emas fisik sebagai titipan). Dan uang kertas pun lahir dari ketiadaan. Selama semua orang tidak meminta emas mereka kembali secara bersamaan (bank run), sistem ini bisa terus berjalan. Inilah dasar dari sistem perbankan fraksional dan cikal bakal bank sentral.
“Jika bank bisa mencetak uang dari ketiadaan, mengapa kemiskinan masih ada? Mengapa bank tidak mencetak banyak uang dan membagikannya kepada semua orang yang membutuhkan?”
Jawaban paling umum; “kelangkaan” sumber daya terbatas. Namun jawaban yang paling masuk akal adalah “uang itu sebenarnya banyak dan tidak terbatas jumlahnya, namun penguasa tidak ingin jika semua orang punya uang dengan mudah.”
Jika uang dibagikan begitu saja, nilainya akan jatuh menjadi nol. Jika semua orang sudah kaya, siapa yang mau bekerja keras?
Kemiskinan bukanlah sebuah kecelakaan akibat kurangnya sumber daya, melainkan sebuah sistem yang disengaja. Dengan tujuan “menciptakan ilusi bahwa uang itu berharga.” Dengan katalain Kemiskinan adalah fitur dari sistem yang dibuat untuk memaksa manusia bekerja.
Lalu bagaimana jika uang yang beredar sudah terlalu banyak dan orang mulai kembali malas untuk bekerja? “Pemusnahan” nilai melalui krisis ekonomi atau perang akan dilakukan untuk mengembalikan rasa kelangkaan.
Pada akhirnya, uang hanyalah konstruksi sosial. Nilai yang sesungguhnya bukanlah pada kertas atau angka, melainkan pada tenaga kerja yang berikan. Dunia ekonomi yang kita jalani digambarkan sebagai sebuah ilusi yang diciptakan untuk membuat manusia terus bekerja untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya bisa diciptakan tak terbatas oleh pemegang kekuasaan.

