MendalamSosok

Relasi Manusia–Alam dalam Bingkai Demitologi dan Teologi: Analisis Penyebab Bencana Kontemporer

Oleh: Oki Fathurohman

(Santri Ponpes Annizhomiyyah Labuan dan Mahasiswa Studi Islam Interdisipliner Pascasarjana UIN Banten)


Akhir-akhir ini, di indonesia banyak terjadi bencana alam, baik yang bersekala besar ataupun kecil. Namun besar kecilnya bencana alam tetaplah bencana alam yang mengandung resiko yang memerlukan mitigasi dan refleksi.

Banjir dahsyat yang belakangan menerjang Sumatera dan Aceh kemudian disusul oleh daerah lain seperti sebagian kota di Banten dan Jakarta menunjukan rawannya bencana alam di indonesia.

Sebagai insan akademis yang berdisiplin ilmu Studi Islam Interdisipliner, tentu penulis ingin menyumbangkan secuil analisa mengenai sebab terjadinya bencana alam dalam perspektif teologi dan filsafat alam. Naskah sederhana ini setidaknya mampu merefleksikan dan menjawab pertanyaan mengapa bencana alam ini terjadi? Bagaimana bencana alam ini tidak terulang?

Penyebab Terjadinya Bencana Alam dalam Perspektif Demitologi

Demitologi adalah alat Analisa ilmiah yang memandang sebab terjadinya bencana alam dengan ilmu pengetahuan subjektif, konstruktif dan empiris. Demitologi muncul seiring dengan lahirnya filsafat yang menuntut kelogisan berpikir terhadap suatu peristiwa yang terjadi, artinya menganalisa sesuatu dengan ilmu bukan dengan mitos.

Dalam kajian kebencanaan, bencana alam bisa terjadi secara objektif dan subjektif, artinya ada yang terjadi secara alami dan adapula yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Diantara contoh bencana secara objektif adalah tsunami, puting beliung dan sejenisnya, sedangkan bencana alam yang disebabkan oleh manusia adalah bencana lain di luar itu.

Dalam ilmu kebencanaan, banjir bandang, tanah longsor adalah masuk kedalam kategori bencana subjektif yakni bencana alam yang disebabkan oleh perbuatan manusia, baik tindakan ataupun kebijakan.

Secara ilmiah, ada berbagai macam ilmu pengetahuan yang bisa digunakan untuk mencegah terjadinya banjir dan longsor, diantaranya melakukan mitigasi bencanja dan Analisa Mengenai Dampak Alam dan Lingkungan sebelum melakukan suatu projek.

Secara ilmiah, terjadinya bencana alam subjektif yang akhir-akhir ini melanda Indonesia bisa dipastikan karena faktor perbuatan manusia, diantaranya pembabatan hutan, pengalih fungsian lahan, pertambangan yang membabi buta, Pembangunan di area irigasi, penyempitan drainase dan sebagainya.

Ketidakharmonisan hubungan alam dan manusia sang terlihat sekali, dan ini setidaknya mampu menjawab pertanyaan mengapa bencana alam yang terjadi, apa penyebab terjadinya bencana alam.

Oleh karenanya, secara demitologi, kepastian manusia sebagai penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor ini tidak bisa dibantah.

Bencana Alam dalam Perspektif Teologi Islam

Teologi sebagai ilmu yang secara sistematis mempelajari keyakinan dasar tentang Tuhan yang melekat dengan sifatnya, hubungnya dengan alam semesta, serta hubungan manusia dengannya (Tuhan dan Alam) dengan menggunakan wahyu sebagai landasan.

Teologi islam memandang bencana alam sebagai akibat dari ketidak harmonisan hubungan manusia dengan tuhan dan alam, landasan utama yang dijadikan acuan dalam argumen ini adalah Quran Surat Ar-Rum:41:

ẓahara al-fasādu fī al-barri wal-baḥri bimā kasabat aidī an-nāsi liyudzīqahum ba’ḍa alladhī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qr, Ar-Rum:41)

Ayat tersebut mendeskripsikan bagaimana interaksi dinamis manusia dengan alam, konsekuensi moral dan spiritual serta panggilan untuk intropeksi.

Bagi penulis, hal ini menjadi warning serius bagi umat beragama supaya setiap tindakan atau kebijakan yang dilakukan memiliki implikasi positif bagi keseimbangan keberlangsungan hidup jangka panjang, tidak justru apatis terhadap akibat yang akan terjadi ketika tindakan dan kebijakan tersebut berpijak pada kehausan material yang didorong oleh nafsu dan penghambaan kepada materi bukan illahi sehingga berdampak negatif terhadap keberlangsungan hidup jangka panjang.

Dalam ayat lain, tuhan memberikan tekanan bahwa manusia adalah penentu terjadi atau tidakanya keseimbangan di bumi, misalnya dalam salah satu potongan ayat Alquran yang berbunyi:

huwa ansya’akum minal-ardli wasta‘marakum fîhâ fastaghfirûhu tsumma tûbû ilaîh, inna rabbî qarîbum mujîb

Artinya: “Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud: ayat 61)

Dari dua wahyu di atas, tentu dalam teologi islam, terjadinya bencana alam tidak serta merta terjadi begitu saja, namun ada penyebab logis dan teologis, yakni ketidakharmonisan hubungan manusia dengan tuhan dan alamnya sehingga menimbulkan kerugian ekologis dan geografis.

Titik Temu

Titik temu penyebab terjadinya bencana alam yang terjadi di Indonesia dalam perspektif ilmiah dan ilahiah atau demitologi dan mitologi jelas terletak pada kesadaran pemikiran manusia untuk menciptakan keberlangsungan hidup jangka Panjang, kelestarian lingkungan dan keterawatan sumber daya.

Ketamakan, keserakahan dan kedangkalan intuisi menyebabkan keterbelakangan jiwa kemanusiaan sehingga menyebabkan perilaku amoral yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, golongan dan kelompok sehingga tega untuk melakukan tindakan-tindakan perusakan terhadap alam dan lingkungan yang beresiko jangka Panjang terhadap keberlangsungan hidup.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *