Teater Padma Al-Khairiyah Kritik Kerusakan Alam lewat Panggung “Ruwat Urip”

SAREKAT- CILEGON, Teater Padma dari Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah tampil dalam Diskusi Budaya #5 di Kiat Cafee, Kota Cilegon, Rabu malam, 30 Desember 2025.
Para aktor pelajar MTs dan Ma Al-Khairiyah Karangtengah membawakan pertunjukan berjudul “Ruwat Urip”, karya Hilal. Pentas ini mengangkat kritik lingkungan dengan bahasa teater yang lugas, dekat dengan realitas warga, dan relevan dengan situasi hari ini.
Cerita berpusat pada Ibrahim, seorang petani. Panennya gagal total. Istrinya hamil dan membutuhkan biaya persalinan. Tekanan ekonomi membuat Ibrahim kehilangan arah.
Di titik rapuh itu, muncul Kakek Jalak, sosok tua misterius yang menawarkan solusi instan melalui ritual sesembahan dengan bunga dan darah manusia. Ibrahim mengikuti ritual itu tanpa berpikir panjang.

Ritual justru memicu kemarahan alam. Pohon-pohon di panggung “hidup” dan menegur Ibrahim. Mereka mengungkap sebab kegagalan panen bukan kutukan dan juga bukan kekuatan gaib. Kerusakan alam akibat ulah manusia. Adegan ini menjadi titik balik cerita dan salah satu momen paling kuat dalam pertunjukan.
Konflik memuncak saat Jaka, sahabat Ibrahim, datang membawa kabar bahwa istrinya kesurupan. Jaka juga mengungkap identitas Kakek Jalak sebagai arwah gentayangan korban pembunuhan. Jalan pintas yang diambil Ibrahim berubah menjadi lingkaran petaka.
Dalam kepanikan dan rasa bersalah, Ibrahim bertemu Kiai Bagus. Tokoh ini menjelaskan bahwa ritual yang dijalani Ibrahim adalah tindakan musyrik yang menjauhkannya dari Tuhan.
Kiai Bagus menawarkan ruwat yang berbeda. Tidak dengan sesaji. Tidak dengan darah. Ruwat sejati adalah wudu, tobat, kembali kepada Allah, dan merawat bumi melalui perbuatan.
Hilal, penulis naskah Ruwat Urip, menjelaskan bahwa lakon ini ingin mengajak penonton bercermin. Ia menekankan hubungan manusia, alam, dan Tuhan yang kerap terputus oleh keserakahan dan keputusasaan.
“Di tanah yang retak oleh langkah manusia, kita pernah lupa bahwa bumi bukan milik kita, hanya titipan,” kata Hilal dalam catatan karyanya.

Menurut Hilal, manusia sering sibuk menguasai alam ini, tapi lupa merawat. Padahal hidup bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan bertanggung jawab.
Hilal juga menegaskan bahwa, kesalahan manusia adalah hal yang nyata dan manusiawi. Namun, selalu ada jalan pulang. “Ruwat sejati bukan pada sesaji, bukan pada darah, tetapi pada taubat yang jernih dan laku hidup yang ramah,” ujarnya.
Ia berharap pesan lakon ini tidak berhenti di panggung. “Hari ini kita menutup kisah, tapi semoga hati tetap terbuka. Untuk bumi, untuk sesama, dan untuk Tuhan,” kata Hilal.
Di tengah Diskusi Budaya #5 yang membahas krisis lingkungan dan dampak industri, Ruwat Urip hadir sebagai pengingat. Alam tidak butuh ritual. Alam butuh dirawat. Peran manusia pada akhirnya, hanya diminta untuk kembali sadar sebelum semuanya terlambat.

