Niat Hati ingin Hidup tenang dan Jadi diri sendiri, Malah mengundang kritik, padahal bukan siapa-siapa
SAREKAT — OTOSIRKEL, Ungkapan “dibenci itu tanda kamu sedang jadi diri sendiri, tapi disukai semua orang sering kali berarti kamu sedang pura-pura” mungkin terdengar sinis. Namun, di balik kalimat tersebut tersimpan fakta ilmiah yang menarik. Penelitian psikologi sosial dari University of Amsterdam menunjukkan bahwa individu yang terlalu berfokus pada penerimaan sosial mengalami tingkat stres hingga 32% lebih tinggi dibanding mereka yang mampu menerima ketidaksukaan orang lain.
Temuan ini menegaskan bahwa hidup tenang bukan berarti hidup tanpa kritik, melainkan kemampuan seseorang untuk tidak mudah terguncang oleh penilaian eksternal. Dalam kehidupan modern, ketenangan batin kerap tergerus karena manusia mengukur nilai dirinya dari komentar orang lain, terutama di era media sosial.
Fenomena ini tampak jelas dalam keseharian. Seorang remaja dapat merasa tidak berharga hanya karena satu komentar negatif di dunia maya. Seorang pekerja bisa memendam emosi berhari-hari akibat kritik atasan di depan umum. Padahal, para ahli menilai kebencian orang lain sering kali bukan tentang siapa yang dibenci, melainkan cerminan dari ketidakamanan pihak yang membenci.
Kebencian dan Psikologi Manusia
Secara psikologis, kebencian kerap muncul ketika seseorang melihat perbedaan. Dalam teori cognitive dissonance, perbedaan memicu rasa tidak nyaman karena bertentangan dengan keyakinan atau pilihan hidup yang telah diambil seseorang. Mereka yang berani keluar dari arus utama sering kali menjadi sasaran kritik, bukan karena salah, tetapi karena keberaniannya memantulkan ketakutan orang lain.
Contohnya, individu yang meninggalkan pekerjaan mapan demi mengejar passion kerap dicemooh sebagai tidak realistis. Namun, kecaman tersebut lebih sering lahir dari rasa takut orang lain untuk mengambil risiko serupa.
Dari Racun Menjadi Energi
Para pakar juga menilai kebencian tidak selalu berdampak negatif. Secara biologis, tubuh akan memproduksi adrenalin saat merasa diserang. Energi ini, jika dikelola dengan tepat, dapat menjadi dorongan untuk berkembang. Banyak individu yang justru tumbuh dan melampaui ekspektasi setelah diremehkan, bukan demi balas dendam, melainkan untuk membuktikan potensi diri.
Dalam dunia kerja, mereka yang dianggap “biasa saja” sering kali menjadi inovator senyap—belajar lebih tekun, bekerja lebih konsisten, dan pada akhirnya melampaui mereka yang lebih dulu meremehkan.
Ilusi Disukai Semua Orang
Keinginan untuk diterima semua pihak dinilai sebagai ilusi yang menguras batin. Penerimaan universal hampir mustahil dan justru membuat seseorang kehilangan jati diri. Kreator konten, misalnya, yang terus mengubah identitas demi menyenangkan audiens, sering kali kehilangan makna dan kebahagiaan dalam proses kreatifnya sendiri.
Para psikolog menyebut ketenangan sejati hadir saat seseorang tidak lagi menjadikan persetujuan publik sebagai tujuan utama hidupnya.
Ketenangan sebagai Kekuatan
Berbagai studi menunjukkan ketenangan bukan tanda kelemahan. Riset dari Harvard mengungkapkan individu dengan kemampuan menahan reaksi impulsif memiliki tingkat kecerdasan emosional lebih tinggi. Diam dalam situasi tertentu justru mencerminkan kontrol diri dan kedewasaan emosional.
Latihan kesadaran diri seperti mindfulness juga terbukti menurunkan aktivitas amigdala—bagian otak yang memicu reaksi emosional berlebihan—sehingga seseorang mampu merespons dengan lebih tenang di tengah tekanan.
Lingkungan dan Makna Hidup
Lingkungan sosial turut berperan besar dalam membentuk ketenangan batin. Suasana yang dipenuhi gosip dan konflik terbukti meningkatkan hormon stres kortisol. Karena itu, para ahli menyarankan untuk memilih lingkungan yang menumbuhkan, bukan menguras energi mental.
Lebih jauh, memiliki sistem makna pribadi menjadi fondasi penting dalam menghadapi kritik. Psikiater Viktor Frankl menegaskan bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan apa pun selama ia memahami alasan di balik apa yang dijalaninya. Prinsip ini relevan dalam konteks sosial: tidak semua orang harus menyukai kita, selama kita tahu mengapa kita memilih jalan tersebut.
Pilihan Sadar Setiap Hari
Pada akhirnya, hidup tenang bukanlah hadiah, melainkan pilihan sadar yang diambil setiap hari. Dunia akan terus menilai, mengkritik, dan membandingkan. Namun, setiap individu memiliki kuasa untuk menentukan sejauh mana suara luar memengaruhi kedamaian batinnya.
Ketenangan bukan tentang menghindari kebencian, melainkan tentang keberanian tetap menjadi diri sendiri di tengah kebisingan dunia.

