AktualLiputanMendalam

Generasi Sandwich Boncos Mengelola Keuangan, BRI dan Jalan Inklusif untuk Mereka

 

Awal bulan selalu datang dengan ritme yang sama dialami Bagus. Bunyi notifikasi di ponsel muncul ketika ia baru saja menarik kursi di ruang istirahat kantor. Gajinya masuk. Angka di layar menenangkan sejenak, lalu perlahan saldo menyusut ketika potongan otomatis berderet, seperti iuran BPJS orang tua, biaya sekolah anak, cicilan KPR rumah, tagihan listrik dan air, serta tagihan paylatter. Sisa saldo hanya cukup untuk membeli bensin hingga awal bulan lagi.

Bagus menatap bekal makan siang yang dibawakan istrinya. Ia menarik napas. “Saya masih bertanggung jawab pada orang tua,” katanya singkat. Ia tahu kewajiban itu tidak bisa dilepas, seperti ia tidak bisa menutup mata pada kebutuhan prioritas anak dan istrinya.

Bagus bukan satu-satunya. Fenomena uang gajian “numpang lewat” jadi cerita banyak pekerja muda. Mereka menanggung kehidupan dua generasi, yaitu orang tua yang tak memiliki jaminan hari tua dan keluarga kecil yang mereka bangun. Penghasilan tidak meningkat, harga kebutuhan naik, dan tuntutan keluarga datang tanpa jeda.

Banyak dari mereka kehabisan uang di tengah bulan. Tidak ada tabungan darurat. Semua uang bercampur di satu rekening. Arus keluar masuk sulit dipetakan. Pada akhir bulan, yang tersisa hanya tanya, ke mana semua uang itu pergi?

Normalisasi sosial ikut memperkuat tekanan. Ada anggapan bahwa anak harus membantu orang tua. Ketika tidak ada skema pensiun yang memadai, anak menjadi penopang utama. Siklus ini membentuk Generasi Sandwich, generasi yang hidup tanpa ruang aman finansial.

Beban Dua Arah dan Minimnya Alat Perencanaan

Bukan hanya Bagus yang menghadapi situasi sulitnya mengatur keuangan. Banyak pekerja muda di Indonesia hidup dalam pola yang sama dengan gaji datang, kewajiban mengalir keluar tanpa jeda. Gambaran tentang beban berlapis yang dialami generasi sandwich tidak berdiri sendiri.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok ini berada di posisi yang unik sekaligus rentan. Mereka produktif, tetapi menanggung dua ujung kehidupan, yaitu orang tua yang mulai memasuki usia rentan dan anak-anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan.

Data BPS 2023 mencatat, rasio ketergantungan lansia mencapai 17,08 persen, artinya setiap seratus orang yang bekerja harus menopang tujuh belas orang lanjut usia. Tekanan finansial ini makin terasa ketika banyak keluarga tidak memiliki perencanaan keuangan jangka panjang.

Proyeksi BPS juga menunjukkan bagaimana beban ini akan terus bergerak. Pada 2025, diperkirakan ada 67,90 juta orang usia produktif yang menjadi penopang utama kelompok non-produktif. Di saat yang sama, rumah tangga dengan anggota lansia meningkat tajam, dari 27,88 persen pada 2019 menjadi 33,16 persen pada 2023.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan kenyataan yang ditemui banyak pekerja muda dengan tuntutan ekonomi bertambah, jumlah lansia yang bergantung meningkat, sementara kemampuan mengatur keuangan sering kali tertinggal jauh di belakang kebutuhan.

Para ahli keuangan melihat pola ini dengan jelas. Claudia Hapsari Priyono, Asisten Manajer Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, menyebut minimnya alat perencanaan sebagai bagian dari persoalan utama. Pengetahuan dasar ada, tetapi praktiknya sering tak berjalan.

“Generasi Sandwich cukup rentan dalam pengelolaan keuangan. Jika minim literasi, risikonya besar. Tuntutan banyak, tapi tanpa manajemen yang jelas, bisa boncos,” kata Claudia dalam sebuah talkshow keuangan di Cilegon Center Mall, 31 Oktober 2025 lalu.

Claudia menekankan pentingnya tabungan di bank. Rekening terpisah membuat dana darurat tidak tercampur dengan belanja harian. Sistem autodebet membantu mengenalkan disiplin menabung tanpa menunggu sisa uang.

Ia juga menyebut pentingnya aplikasi pemantau pengeluaran. Data sederhana tentang pola belanja sering menjadi titik balik bagi pekerja muda yang tidak pernah menyadari kebiasaan boros mereka. “Literasi keuangan harus berjalan bersama kebiasaan menabung agar generasi sandwich punya ruang aman,” ujarnya.

Ketika Inklusi Keuangan Menjadi Ruang Aman

Di sinilah konsep inklusi keuangan menemukan perannya. Akses terhadap layanan perbankan formal memberi ruang aman untuk menabung, mengelola uang, dan merencanakan masa depan. Generasi sandwich menghadapi tantangan cukup pelik dalam perencanaan finansial untuk orang tua dan anak, sambil tetap mempersiapkan masa depan sendiri.

Bank Rakyat Indonesia (BRI)yang mengusung semangat “Bersama Rakyat Indonesia Maju” hadir dengan jaringan luas dan layanan yang mudah diakses. Di banyak daerah, BRI menjadi pintu pertama bagi anak muda yang ingin mengatur keuangan dengan cara yang sederhana dan terstruktur.

Bagus butuh waktu sebelum memulai semua itu. Ia membaca banyak ulasan di internet, mendengar obrolan teman-temannya, sampai ikut menonton penjelasan soal cara mengatur uang di sebuah kanal keuangan.

Malam itu, sambil duduk di ruang tamu, ia membuka BRImo. Layar biru itu terasa seperti pintu kecil menuju sesuatu yang baru. Bagus hanya ingin mulai dari langkah paling sederhana.

Ia membuat Tabungan BRI Rencana lebih dulu. Ia menyiapkannya khusus untuk dana darurat. Setoran otomatis membuatnya lega. Ia tidak perlu lagi menunggu sisa gaji atau menunda-nunda. Begitu tanggal jatuh tempo, uang itu berpindah sendiri. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya melihat saldo itu tumbuh perlahan seperti tanaman kecil yang disiram rutin.

Untuk kebutuhan harian, ia tetap memakai BritAma atau Simpedes. Rekening ini jadi pusat aktivitas hariannya. Lewat BRImo, ia membayar Listrik dan air, iuran sekolah, uang obat orang tua, dan tagihan bulanan yang tidak pernah berhenti datang. Semua rapi dalam satu aplikasi. Gerakan jarinya di layar menggantikan langkah panjang ke ATM atau antrean bank yang dulu sering membuatnya jengkel.

Lalu, ia memikirkan sesuatu yang lebih jauh. Masa tuanya. Ia teringat orang tuanya yang tidak punya dana pensiun dan harus bergantung pada anak-anak. Ia tidak ingin berjalan di jalan yang sama. Ia membuka DPLK BRI langsung melalui BRImo. Tidak membutuhkan waktu lama. Tapi keputusan kecil itu membuatnya merasa seperti menyalakan lampu di lorong panjang yang selama ini gelap.

Tiga rekening itu bekerja dengan perannya masing-masing. Satu untuk darurat. Satu untuk kehidupan sehari-hari. Satu lagi untuk masa depan yang belum ia tahu bentuknya. Sejak itu, arus uang Bagus mulai terlihat jelas. Bagus akhirnya tahu mana yang tak boleh disentuh, mana yang aman dibelanjakan, dan mana yang harus disimpan untuk jangka panjang.

“Konsisten menabung, walau kecil, penting sekali,” ujarnya.Ia hanya ingin pondasi yang lebih tenang untuk masa depan keluarganya.

Langkah Kecil yang Mengubah Arah

Enam bulan kemudian, saldo dana darurat Bagus tumbuh perlahan. Tidak besar, tapi stabil. Tidak cepat, tetapi terpisah rapi dari uang harian. Ia juga melihat pengeluarannya turun. Ia mulai memahami pola hidupnya sendiri.

Pengalaman itu memberi gambaran penting, bahwa Generasi Sandwich bukan tidak mampu mengelola uang. Mereka hanya kekurangan alat, ruang aman, dan sistem yang membantu mereka bertahan.

Ketika akses keuangan terbuka, beban mereka lebih terkelola. Ketika informasi tersedia, keputusan mereka lebih matang. Ketika layanan inklusif hadir, mereka punya kesempatan memperbaiki arah hidup.

Bagi banyak dari mereka, langkah kecil ini dimulai dari kesadaran bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Ada layanan yang bisa diraih, ada sistem yang bisa dipakai, dan ada institusi yang memberi ruang untuk terus melangkah, seperti yang diusung BRI, Bersama Rakyat Indonesia Maju. (Pram)

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *