OtoSirkelTerminal

Dewasa Artinya Menerima Sebagian Besar Relasi adalah Sifat nya Transaksional

SAREKAT – TERMINAL, Bagaimana tidak ketika meranjak dewasa mindset kita bukan lagi sekedar mencari pertemanan dan persahabatan, namun tentang mencari keuntungan yang di miliki dari relasi yang kita punya. Mungkin pertemanan penting tapi itu hanya sedikit orang yang memiliki rasa seperti itu.

Di dunia ini mau manusia ataupun hewan rantai makanan itu tetap berlaku untuk tetap mendapatkan secercah rezeki, hanya untuk sekedar bertahan hidup saja, tak peduli itu mau teman dekat, bahkan sodara sekalipun jika itu memiliki sebuah keuntungan pasti akan diambil juga.

Bagaimana tidak, ketika meranjak dewasa, mindset kita bukan lagi sekadar mencari pertemanan dan persahabatan, tapi lebih kepada mencari keuntungan dari relasi yang kita punya. Mungkin, masih ada segelintir orang yang menjunjung tinggi nilai pertemanan, yang benar-benar tulus hadir tanpa pamrih. Namun, di tengah dunia yang serba cepat dan keras ini, orang-orang seperti itu jumlahnya makin sedikit—hampir langka seperti spesies yang terancam punah.

Dewasa, dalam arti yang sebenarnya, membuat kita sadar bahwa hubungan antar manusia ternyata punya nilai tukar. Kita tidak lagi bersosialisasi hanya karena nyaman, tapi juga karena ada kepentingan yang perlu dijaga. Sadar atau tidak, relasi menjadi bentuk transaksi halus—antara waktu, tenaga, perhatian, dan peluang. Orang berteman bukan sekadar karena cocok, tapi karena ada manfaat yang bisa diperoleh, entah itu akses ke jaringan baru, kesempatan kerja, atau bahkan sekadar validasi sosial.

Tidak sedikit yang menganggap pandangan ini sinis, tapi coba lihat realitanya. Dunia kerja, misalnya, tidak hanya menilai kemampuan, tapi juga “siapa yang kamu kenal.” Networking menjadi kunci, dan networking itu sendiri tidak lain adalah bentuk relasi transaksional yang dikemas rapi dalam istilah profesional. Bahkan di lingkungan sosial, seseorang bisa dianggap “bernilai” jika punya sesuatu yang bisa dibagi—entah itu uang, popularitas, atau sekadar koneksi.

Namun, bukan berarti semua bentuk hubungan yang transaksional itu salah. Justru di sinilah letak kedewasaan: menyadari bahwa tidak semua hubungan harus tulus, dan tidak semua relasi yang tulus bisa bertahan lama. Dunia dewasa menuntut keseimbangan antara keikhlasan dan kepentingan. Kadang kita harus berkompromi, menahan idealisme demi bertahan hidup. Layaknya hukum rantai makanan, yang kuat akan memangsa yang lemah, bukan karena kejam, tapi karena itu cara alam bertahan.

Kita pun, dalam kehidupan sosial, sering tanpa sadar menjadi bagian dari rantai itu. Kita memanfaatkan peluang dari relasi yang ada, bahkan mungkin menjadi peluang bagi orang lain. Teman lama tiba-tiba menghubungi bukan karena rindu, tapi karena ada urusan pekerjaan. Saudara jauh datang bukan karena ingin bersilaturahmi, tapi karena butuh bantuan. Semua berjalan dalam pola yang sama: ada sebab, ada imbalan.

Mungkin terdengar pahit, tapi inilah realitas yang harus diterima. Kedewasaan bukan tentang menolak sifat transaksional, melainkan memahami batasnya. Kita tetap bisa menjaga empati tanpa harus meniadakan kepentingan pribadi. Kita tetap bisa membantu tanpa merasa dimanfaatkan, asalkan sadar bahwa tidak semua kebaikan harus dibalas dengan kebaikan.

Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang menerima bahwa hidup ini memang transaksional. Tapi di antara semua hubungan yang dilandasi kepentingan itu, masih ada ruang kecil untuk ketulusan—mungkin tidak banyak, tapi cukup untuk membuat kita tetap percaya pada kemanusiaan. Sebab tanpa sedikit ketulusan, hidup ini hanya akan jadi pasar besar, tempat semua orang menjual dan membeli perhatian, cinta, dan waktu satu sama lain.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *