KampusLiputan

Senioritas dan Kenyataan yang tak Bisa terhapuskan

SAREKAT – TERMINAL, Senioritas memang tidak bisa dihapus begitu saja. Ia akan selalu ada selama sistem dan fase kehidupan sosial itu masih berjalan. Bagi sebagian orang, tidak suka pada senioritas itu sah-sah saja. Kadang memang menyebalkan—apalagi kalau diterapkan secara kaku di kampus, organisasi, atau tempat kerja.

Saya paham bahwa senioritas sejatinya patut ditegakkan. Tapi hanya oleh mereka yang benar-benar menghargai proses. Karena seseorang yang menghargai proses pasti tahu betapa tidak mudahnya sampai di posisi yang ia capai sekarang.

Sayangnya, banyak senior hari ini yang justru sibuk bercerita tentang pencapaiannya sendiri—tentang masa jayanya dulu, atau betapa kuatnya ia ketika memegang “power” tertentu. Bagi sebagian junior, mungkin itu cuma terdengar seperti ajang curhat. Ada yang menanggapinya santai: “Ya sudahlah, mungkin dia cuma butuh tempat cerita.” Tapi tidak semua orang berpikir begitu. Ada juga yang justru merasa risih atau menilai buruk. Akhirnya, sang senior malah dijulidin dari belakang, masalahnya bukan di “julid”-nya, tapi di cara orang menilai yang berbeda-beda.

Senioritas Itu Harus Konkret

Menurut saya, keberadaan senioritas akan punya makna kalau disertai dengan kekonkretan. Percuma saja mendengar kisah hebat masa lalu, kalau ujung-ujungnya junior cuma dijadikan tempat curhat. Lebih parah lagi kalau junior malah dijadikan batu pijakan untuk kepentingan tertentu. Kalau itu memberi manfaat bagi keduanya, tak masalah. Tapi kalau tidak? Ya junior cuma dapat ampasnya saja.

Kadang malah tanpa imbalan apa pun—uang rokok tidak, makan siang pun tidak. Cuma dapat “ceramah” gratis tentang kejayaan masa lalu.

Harapan pada Sosok Senior

Sebagai junior, wajar kalau kita berharap senior bisa memberi proyeksi ke depan: bimbingan, peluang, bahkan mungkin proyek nyata. Tapi seringnya yang kita dapat cuma cerita heroik masa lalu: saat jadi Ketua BEM, Ketum organisasi, atau atasan di tempat kerja.

Padahal yang kita butuhkan bukan nostalgia, tapi keberlanjutan. Bukan cerita “aku dulu siapa”, tapi “kita nanti bisa apa”. Senior yang konkret bukan hanya pandai bicara, tapi mampu mengajak juniornya tumbuh bersama—memberi ruang belajar, kesempatan, bahkan peran nyata dalam apa yang sedang ia garap.

Arti Konkret yang Sebenarnya Adalah Keberlanjutan

Konkret itu bukan berarti senior harus mentraktir junior makan atau kasih uang. Kalau cuma itu, mending pelihara ayam, sapi, atau kambing sekalian—keluar uang banyak tapi pasti balik modal.

Konkret yang sesungguhnya adalah keberlanjutan. Bagaimana ia punya rencana ke depan, tahu cara mengimplementasikannya, dan melibatkan junior di dalamnya. Entah itu dalam proyek sosial, gerakan masyarakat, atau bahkan usaha bersama yang bisa menghasilkan.

Senior yang konkret adalah mereka yang membangun, bukan sekadar bercerita. Yang menuntun, bukan menunggangi.

Pilih yang Konkret, Bukan yang Banyak Mau

Zaman sekarang, sudah bukan waktunya pusing dengan senior yang cuma pandai bicara. Rangkul yang konkret-konkret saja. Yang mau berjalan bareng, bukan yang cuma datang pas butuh massa atau kepentingan politik.

Karena pada akhirnya, senior yang baik bukan yang tinggi gengsinya, tapi yang mau memastikan adik-adiknya tumbuh bersama.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *