Terminal

Mengenal Kebijakan Kontroversi Akhenaten yang Guncang Tatanan Mesir Kuno

SAREKAT, TERMINAL — Pemerintahan Firaun Akhenaten pada abad ke-14 sebelum Masehi tercatat sebagai salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah Mesir Kuno. Raja dari Dinasti ke-18 itu melakukan serangkaian kebijakan radikal yang mengubah sistem kepercayaan, politik, hingga budaya masyarakat Mesir secara drastis.

Langkah paling mencolok adalah penerapan penyembahan tunggal kepada dewa Aten, yang menggantikan tradisi lama yang memuja banyak dewa seperti Amun, Ra, dan Osiris. Akhenaten bahkan memerintahkan penghapusan nama dewa-dewa lama dari prasasti serta menutup sejumlah kuil yang sebelumnya menjadi pusat kehidupan religius masyarakat.

Selain reformasi agama, Akhenaten juga memindahkan ibu kota kerajaan dari Thebes ke kota baru bernama Akhetaten (kini Amarna). Kebijakan ini dinilai sebagai upaya menjauhkan kekuasaan dari pengaruh kuat para pendeta Amun, yang sebelumnya memiliki peran besar dalam politik dan ekonomi kerajaan.

Reformasi tersebut berdampak pada melemahnya struktur kekuasaan lama. Kekayaan dan tanah milik kuil Amun disita, sementara peran para pendeta dipangkas secara signifikan. Langkah ini memicu ketegangan di kalangan elit dan tokoh agama yang kehilangan pengaruh.

Di bidang budaya, Akhenaten memperkenalkan gaya seni baru yang berbeda dari tradisi Mesir sebelumnya. Sosok raja digambarkan lebih naturalistik, bahkan cenderung tidak ideal, dan kehidupan keluarga kerajaan ditampilkan secara lebih personal. Ratu Nefertiti pun tampil menonjol sebagai figur penting dalam pemerintahan dan keagamaan.

Namun di tengah perubahan internal, hubungan luar negeri Mesir dilaporkan melemah. Sejumlah dokumen diplomatik yang dikenal sebagai Amarna Letters menunjukkan permintaan bantuan militer dari sekutu yang tidak direspons secara maksimal, sehingga pengaruh Mesir di kawasan Asia Barat menurun.

Sejarawan menilai kebijakan Akhenaten tidak hanya mengguncang tradisi, tetapi juga menciptakan instabilitas politik dan sosial. Setelah wafatnya sang firaun, sebagian besar kebijakan tersebut segera dibatalkan. Penggantinya, termasuk Tutankhamun, mengembalikan sistem kepercayaan lama serta memulihkan struktur kekuasaan sebelumnya.

Warisan Akhenaten pun menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Sebagian menilainya sebagai penguasa kontroversial yang merusak tatanan, sementara yang lain melihatnya sebagai tokoh visioner yang memperkenalkan gagasan monoteisme jauh sebelum berkembangnya agama-agama besar dunia.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *