Terminal

Akhenaten Guncang Tradisi Mesir Kuno, Reformasi Agama dan Ibu Kota Jadi Sorotan

SAREKAT, TERMINAL — Peradaban Mesir Kuno selama ribuan tahun dikenal dengan konsistensinya dalam menjaga tradisi, mulai dari gaya artistik monumen hingga sistem kepercayaan politeistik yang relatif tidak berubah. Namun, stabilitas tersebut terguncang pada masa Dinasti ke-18, tepatnya sekitar pertengahan abad ke-14 sebelum Masehi.

Perubahan besar itu terjadi ketika seorang firaun bernama Amenhotep IV naik takhta sekitar tahun 1353 SM, menggantikan ayahnya, Amenhotep III. Berbeda dari para pendahulunya yang membangun “era emas” Mesir, Amenhotep IV justru melakukan reformasi besar-besaran yang mengguncang fondasi peradaban, mencakup bidang agama, seni, hingga pusat pemerintahan.

Langkah paling mencolok yang ia lakukan adalah memperkenalkan kultus baru yang berpusat pada penyembahan kepada Aton, yang digambarkan sebagai cakram matahari. Dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya, ia bahkan mengganti namanya menjadi Akhenaten, yang berarti “yang bermanfaat bagi Aton”.

Pergantian nama tersebut bukan sekadar simbolis. Akhenaten memulai kebijakan ikonoklasme dengan menghapus nama dewa utama Amun dan permaisurinya, Mut, dari berbagai monumen dan prasasti. Kebijakan ini menandai upaya serius untuk menggeser tradisi politeisme yang telah mengakar selama berabad-abad menuju pemujaan satu dewa tunggal.

Selain reformasi agama, Akhenaten juga mengambil langkah radikal lain, yakni memindahkan pusat pemerintahan dari ibu kota lama ke kota baru yang dibangun di tengah gurun. Kebijakan ini sekaligus mempertegas perubahan arah politik dan budaya pada masa pemerintahannya.

Tak hanya itu, perubahan juga tampak pada seni dan representasi diri sang firaun. Ia memerintahkan agar dirinya digambarkan dengan bentuk tubuh yang tidak proporsional dibandingkan standar seni Mesir sebelumnya, menandai gaya artistik baru yang berbeda dari tradisi lama.

Sejarawan hingga kini masih memperdebatkan motif di balik kebijakan-kebijakan kontroversial Akhenaten, termasuk alasan di balik penghapusan politeisme, pemindahan ibu kota, serta perubahan citra dirinya dalam seni. Reformasi besar yang ia lakukan menjadi salah satu periode paling unik dan penuh teka-teki dalam sejarah panjang Mesir Kuno.

Sharing is scaring

Admin Sarekat

Menghidupkan Suara Yang Tersekat di antara suara lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *